Home | Agenda | Iklan | Kontak Kami  | Polling | Redaksi | WI Lovers | Arsip Edisi 952 / 10 - 16 Maret / 2008
Berita Aktual
Bintang Anda
Kisah Sejati
Konsultasi
Ibu Anak
Menu Pintar
Sehat

 Sehat
  Oleh: Atus

 

Waspada Susu Formula

Heboh para ibu belakangan ini, akibat ditemukan adanya Enterobacter sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi.

Berdasarkan hasil penelitian IPB terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri Enterobacter Sakazakii (E. Sakazakii. Yang dikhawatirkan adalah bakteri tersebut sangat berbahaya.

Bakteri yang pertama kali ditemukan di Jepang ini tergolong berbahaya.  Bakteri sakazakii merupakan sejenis bakteri yang hidup di usus (enterobacter) dan bisa menyebabkan berbagai gangguan pencernaan misalnya diare pada anak. Dan yang lebih membahayakan jika bakteri ini menyerang dan menginvasi otak bagi bayi maka kemungkinan akibat pengaruh toksin yang dikandungnya bisa menyebabkan penyakit radang selaput otak (meningitis).


Terkontaminasi Bakteri

Gejala keracunan yang dapat ditimbulkan susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri.

Susu dapat menjadi media pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di dalamnya terdapat komponen biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.

Selain E. sakazakii, bakteri lain yang sering mengontaminasi susu formula ialah Clostridium botulinu, Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi, dan berbagai jenis salmonella lainnya.

Enterobacter Sakazakii akan mati dengan pemanasan dan diolah dengan air mendidih karena itu, dalam menyajikan susu gunakan air mendidih.

Berdasarkan sebuah penelitian, bakteri ini akan mati pada suhu di atas 60 derajat Celsius apalagi jika menggunakan air mendidih sekitar 100 derajat celsius.

 

Infeksi Meningitis

E. sakazakii pertama ditemukan tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Meskipun bakteri ini dapat menginfeksi pada segala usia, risiko terbesar terkena adalah usia bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda, Amerika, dan Kanada.

Di Amerika Serikat, angka kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan ialah 1 per 100 000 bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg).

Temuan peneliti IPB tersebut mungkin tidak terlalu mengejutkan. Sebab, USFDA telah melansir sebuah penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk formula didapatkan 20 (14%) kultur positif E. sakazakii.

E. sakazakii adalah kuman jenis gram negatif dari family enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai yellow pigmented Enterobacter cloacae.

Meskipun infeksi karena bakteri ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis (infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan otak berlebihan), sepsis (infeksi berat), and necrotizing enterocolitis (kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan terjadi infeksi saluran kencing.

Secara umum, tingkat kefatalan kasus (case-fatality rate) atau risiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar 40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena penyakit ini.

Misalnya, infeksi otak yang disebabkan E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak (kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau anak di antaranya diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning, kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga kejang.

Bayi prematur, berat badan lahir rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan tubuh adalah individu yang paling berisiko mengalami infeksi ini. Meskipun juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E.
 

Pencemaran Susu

Terjadinya kontaminasi bakteri dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya. Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah.

Meskipun demikian, aplikasi teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.

Pencemaran susu oleh mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking), penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan (pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang steril dari hulu hingga hilir sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.

Peralatan pemerahan yang tidak steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara di sekitar tempat pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu. Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan tertutup.


 

Penjelasan Badan POM mengenai Enterobacter sakazakii

  1. Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram-negatif yang tahan panas dan tidak membentuk spora.
  2. Secara klinis cemaran Enterobacter sakazakii menimbulkan diare yang bila tidak diobati dapat menimbulkan dehidrasi yang dapat berakibat fatal.
  3. Tahun 2005 World Health Assembly (WHA) menginformasikan kepada negara-negara anggota mengenai adanya kemungkinan cemaran mikroba Enterobacter sakazakii pada susu formula.
  4. Pada tahun 2005 WHA mengeluarkan resolusi agar World Health Organization(WHO) dan Food and Agriculture Organization (FAO) menyiapkan pedoman, pesan edukasi dan pelabelan produk tentang penyiapan, penyimpanan dan penanganan susu formula.
  5. Badan POM melakukan pengawasan susu formula melalui premarket evaluation sebelum pemberian izin edar dan post market control setelah produk beredar.
  6. Pemeriksaan cemaran mikroba merupakan bagian dari pemeriksaan rutin Badan POM terhadap produk pangan (termasuk susu formula) disamping cemaran jamur, logam berat dan lain-lain.
  7. Hasil pemeriksaan cemaran tidak dipublikasikan sebagaimana Prosedur Tetap (Protap) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan negara lainnya.
  8. Tindak lanjut dilakukan dengan memanggil produsen untuk menarik produk dari dari peredaran untuk kemudian dimusnahkan. Produk tersebut baru boleh beredar kembali setelah dilakukan pemeriksaan dengan hasil memenuhi syarat.
  9. Pemerintah sangat memperhatikan kemungkinan pencemaran mikroba dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Air Susu Ibu (ASI), agar pada usia 0-6 bulan bayi hanya diberi ASI.
  10. Pada keadaan tertentu dibutuhkan susu formula agar penyiapannya dilakukan secara higienis termasuk penyiapan botol, kebersihan dot, dan air yang digunakan serta kebersihan penyaji.

 

Kembali Ke ASI saja…

Karena maraknya berita tercemarnya susu formula dengan bakteri Enterobacter Sakazakii, Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu (ASI). Karena ASI merupakan satu-satunya sumber nutrisi yang telengkap dan terbaik untuk bayi dan balita.

Ketua AIMI Mia Sutanto juga mengatakan bahwa Nutrisi dan kalori yang terkandung dalam ASI sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi bayi tidak perlu tambahan susu formula apapun.

“ASI mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, air garam, dan gula yang semuanya sudah secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi,” kata Mia.

“ASI juga mengandung sel-sel hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit, dan tentunya sel-sel hidup ini tidak ada dalam produk susu formula,” tambah Mia.

Mia juga menjelaskan bahwa ASI memiliki keunggulan yang lebih banyak dibandingkan dengan susu formula yaitu selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan Ibu dan anak (bonding) yang tak akan tertandingi oleh apapun.

“Jangan mempertaruhkan masa depan bayi –bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis untuk dikonsumsi oleh bayi,” kata Mia.

“Memberikan ASI sebagai satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, memang membutuhkan persiapan khusus sejak masa kehamilan, namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang memadai dan pikiran positif serta niat si Ibu untuk memberikan ASI kepada bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar,” tambah Mia. Atus

 

< Muka


WI Edisi 953

Beredar:
Kamis, 13 Maret 2008


 

 

cermin
keluarga
puanmetro
wisata

Tabloid Wanita Indonesia
Jl. Tebet Barat Raya No. 52 Jakarta Selatan 12810
Telp. 021-8308737 (hunting) Fax. 021-8293148
email:
redaksi@tabloid-wanita-indonesia.com