|
|
|
Waspada Susu
Formula
Heboh para ibu belakangan ini, akibat ditemukan adanya Enterobacter
sakazakii dalam susu formula anak-anak dan bubur bayi.
Berdasarkan hasil penelitian IPB
terhadap 74 sampel susu formula, 13,5 persen di antaranya mengandung bakteri
Enterobacter Sakazakii (E. Sakazakii. Yang dikhawatirkan adalah bakteri
tersebut sangat berbahaya.
Bakteri yang pertama kali
ditemukan di Jepang ini tergolong berbahaya. Bakteri sakazakii merupakan
sejenis bakteri yang hidup di usus (enterobacter) dan bisa menyebabkan
berbagai gangguan pencernaan misalnya diare pada anak. Dan yang lebih
membahayakan jika bakteri ini menyerang dan menginvasi otak bagi bayi maka
kemungkinan akibat pengaruh toksin yang dikandungnya bisa menyebabkan
penyakit radang selaput otak (meningitis).
Terkontaminasi Bakteri
Gejala keracunan yang dapat
ditimbulkan susu formula bayi tidak disebabkan oleh komponen biokimia atau
bahan yang terkandung di dalamnya. Manusia dapat mengalami gejala keracunan
karena susu tersebut telah terkontaminasi oleh bakteri.
Susu dapat menjadi media
pertumbuhan yang baik bagi bakteri karena di dalamnya terdapat komponen
biokimia yang juga diperlukan oleh bakteri untuk tumbuh dan berkembang.
Selain E. sakazakii, bakteri
lain yang sering mengontaminasi susu formula ialah Clostridium botulinu,
Citrobacter freundii, Leuconostoc mesenteroides Escherichia coli Salmonella
agona, Salmonella anatum, Salmonella bredeney, Salmonella ealing, Salmonella
Virchow, Serratia marcescens, Salmonella isangi, dan berbagai jenis
salmonella lainnya.
Enterobacter Sakazakii
akan mati dengan pemanasan dan diolah dengan air mendidih karena itu, dalam
menyajikan susu gunakan air mendidih.
Berdasarkan sebuah penelitian,
bakteri ini akan mati pada suhu di atas 60 derajat Celsius apalagi jika
menggunakan air mendidih sekitar 100 derajat celsius.
Infeksi Meningitis
E. sakazakii pertama ditemukan
tahun 1958 pada 78 kasus bayi dengan infeksi meningitis. Meskipun bakteri
ini dapat menginfeksi pada segala usia, risiko terbesar terkena adalah usia
bayi. Peningkatan kasus yang besar dilaporkan terjadi di bagian Neonatal
Intensive Care Units (NICUs) beberapa rumah sakit di Inggris, Belanda,
Amerika, dan Kanada.
Di Amerika Serikat, angka
kejadian infeksi E. sakazakii yang pernah dilaporkan ialah 1 per 100 000
bayi. Terjadi peningkatan angka kejadian menjadi 9.4 per 100 000 pada bayi
dengan berat lahir sangat rendah (<1.5 kg).
Temuan peneliti IPB tersebut
mungkin tidak terlalu mengejutkan. Sebab, USFDA telah melansir sebuah
penelitian prevalensi kontaminasi di sebuah negara terhadap 141 susu bubuk
formula didapatkan 20 (14%) kultur positif E. sakazakii.
E. sakazakii adalah kuman jenis
gram negatif dari family enterobacteriaceae. Organisme ini dikenal sebagai
yellow pigmented Enterobacter cloacae.
Meskipun infeksi karena bakteri
ini sangat jarang, tetapi dapat mengakibatkan penyakit yang sangat berbahaya
sampai dapat mengancam jiwa, di antaranya adalah neonatal meningitis
(infeksi selaput otak pada bayi), hidrosefalus (kepala besar karena cairan
otak berlebihan), sepsis (infeksi berat), and necrotizing enterocolitis
(kerusakan berat saluran cerna). Sedangkan pada beberapa kasus dilaporkan
terjadi infeksi saluran kencing.
Secara umum, tingkat kefatalan
kasus (case-fatality rate) atau risiko untuk dapat mengancam jiwa berkisar
40-80% pada bayi baru lahir yang mendapat diagnosis infeksi berat karena
penyakit ini.
Misalnya, infeksi otak yang
disebabkan E. sakazakii dapat mengakibatkan infark atau abses otak
(kerusakan otak) dengan bentukan kista, gangguan persarafan yang berat dan
gejala sisa gangguan perkembangan. Gejala yang dapat terjadi pada bayi atau
anak di antaranya diare, kembung, muntah, demam tinggi, bayi tampak kuning,
kesadaran menurun (malas minum, tidak menangis), mendadak biru, sesak hingga
kejang.
Bayi prematur, berat badan lahir
rendah (kurang dari 2.500 gram) dan penderita dengan gangguan kekebalan
tubuh adalah individu yang paling berisiko mengalami infeksi ini. Meskipun
juga jarang bakteri patogen ini dapat mengakibatkan bakterimeia dan
osteomielitis (infeksi tulang) pada penderita dewasa. Pada penelitian
terakhir didapatkan kemampuan 12 jenis strain E.
Pencemaran Susu
Terjadinya kontaminasi bakteri
dapat dimulai ketika susu diperah dari puting sapi. Lubang puting susu
memiliki diameter kecil yang memungkinkan bakteri tumbuh di sekitarnya.
Bakteri ini ikut terbawa dengan susu ketika diperah.
Meskipun demikian, aplikasi
teknologi dapat mengurangi tingkat pencemaran pada tahap ini dengan
penggunaan mesin pemerah susu (milking machine), sehingga susu yang keluar
dari puting tidak mengalami kontak dengan udara.
Pencemaran susu oleh
mikroorganisme lebih lanjut dapat terjadi selama pemerahan (milking),
penanganan (handling), penyimpanan (storage), dan aktivitas pra-pengolahan
(pre-processing) lainnya. Mata rantai produksi susu memerlukan proses yang
steril dari hulu hingga hilir sehingga bakteri tidak mendapat kesempatan
untuk tumbuh dan berkembang dalam susu.
Peralatan pemerahan yang tidak
steril dan tempat penyimpanan yang tidak bersih dapat menyebabkan
tercemarnya susu oleh bakteri. Susu memerlukan penyimpanan dalam temperatur
rendah agar tidak terjadi kontaminasi bakteri. Udara di sekitar tempat
pengolahan merupakan media yang dapat membawa bakteri untuk mencemari susu.
Proses pengolahan susu sangat dianjurkan untuk dilakukan di dalam ruangan
tertutup.
Penjelasan Badan
POM mengenai Enterobacter sakazakii
-
Enterobacter sakazakii adalah bakteri gram-negatif yang tahan panas
dan tidak membentuk spora.
-
Secara klinis cemaran Enterobacter sakazakii menimbulkan diare yang
bila tidak diobati dapat menimbulkan dehidrasi yang dapat berakibat
fatal.
-
Tahun 2005 World Health Assembly (WHA) menginformasikan kepada
negara-negara anggota mengenai adanya kemungkinan cemaran mikroba
Enterobacter sakazakii pada susu formula.
-
Pada tahun 2005 WHA mengeluarkan resolusi agar World Health
Organization(WHO) dan Food and Agriculture Organization (FAO) menyiapkan
pedoman, pesan edukasi dan pelabelan produk tentang penyiapan,
penyimpanan dan penanganan susu formula.
-
Badan POM melakukan pengawasan susu formula melalui premarket
evaluation sebelum pemberian izin edar dan post market control setelah
produk beredar.
-
Pemeriksaan cemaran mikroba merupakan bagian dari pemeriksaan rutin
Badan POM terhadap produk pangan (termasuk susu formula) disamping
cemaran jamur, logam berat dan lain-lain.
-
Hasil pemeriksaan cemaran tidak dipublikasikan sebagaimana Prosedur
Tetap (Protap) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan negara lainnya.
-
Tindak lanjut dilakukan dengan memanggil produsen untuk menarik
produk dari dari peredaran untuk kemudian dimusnahkan. Produk tersebut
baru boleh beredar kembali setelah dilakukan pemeriksaan dengan hasil
memenuhi syarat.
-
Pemerintah sangat memperhatikan kemungkinan pencemaran mikroba
dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Air Susu Ibu (ASI),
agar pada usia 0-6 bulan bayi hanya diberi ASI.
-
Pada keadaan tertentu dibutuhkan susu formula agar penyiapannya
dilakukan secara higienis termasuk penyiapan botol, kebersihan dot, dan
air yang digunakan serta kebersihan penyaji.
Kembali Ke ASI saja…
Karena maraknya berita
tercemarnya susu formula dengan bakteri Enterobacter Sakazakii, Asosiasi Ibu
Menyusui Indonesia (AIMI) menyerukan ajakan untuk kembali ke Air Susu Ibu
(ASI). Karena ASI merupakan satu-satunya sumber nutrisi yang telengkap dan
terbaik untuk bayi dan balita.
Ketua AIMI Mia Sutanto juga
mengatakan bahwa Nutrisi dan kalori yang terkandung dalam ASI sudah sangat
cukup untuk memenuhi kebutuhan bayi, jadi bayi tidak perlu tambahan susu
formula apapun.
“ASI mengandung karbohidrat,
protein, lemak, vitamin, mineral, air garam, dan gula yang semuanya sudah
secara khusus dikomposisikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing bayi,”
kata Mia.
“ASI juga mengandung sel-sel
hidup yang berperan sebagai zat anti infeksi dan imunitas alami untuk
melindungi bayi dari berbagai ancaman penyakit, dan tentunya sel-sel hidup
ini tidak ada dalam produk susu formula,” tambah Mia.
Mia juga menjelaskan bahwa ASI
memiliki keunggulan yang lebih banyak dibandingkan dengan susu formula yaitu
selain dari segi kandungan dan kecukupan nutrisi, kemudian faktor imunitas
atau perlindungan tubuh, juga dari segi kedekatan Ibu dan anak (bonding)
yang tak akan tertandingi oleh apapun.
“Jangan mempertaruhkan masa
depan bayi –bayi Indonesia dengan tidak memberikan ASI, yang sudah terbukti
merupakan makanan yang paling bagus, paling lengkap dan paling higienis
untuk dikonsumsi oleh bayi,” kata Mia.
“Memberikan ASI sebagai
satu-satunya nutrisi terbaik untuk bayi, memang membutuhkan persiapan khusus
sejak masa kehamilan, namun semua proses persiapan untuk memberikan ASI bisa
dilakukan dengan mudah karena bekal utamanya hanyalah pengetahuan yang
memadai dan pikiran positif serta niat si Ibu untuk memberikan ASI kepada
bayinya serta dukungan dari keluarga dan masyarakat sekitar,” tambah Mia.
Atus
|
< Muka
|
|
|
WI Edisi 953
Beredar:
Kamis, 13 Maret 2008

|
|
|