Home | Agenda | Iklan | Kontak kami | Polling | Redaksi | WI Lovers | Arsip Edisi 952 / 10 - 16 Maret / 2008
Berita Aktual
Bintang Anda
Kisah Sejati
Konsultasi
Ibu Anak
Menu Pintar
Sehat
  PLUS*  

 

butir-butir budaya jawa   rangkaian foto

Pekan ini genap empat puluh hari Pak Harto meninggalkan kita semua. Beliau meninggalkan kenangan yang sarat dengan baktinya terhadap bangsa dan negara. Juga kenangan sebagai seorang bapak yang sangat dicintai keluarga besarnya, dan masyarakat luas.

Serial Kisah Pak Harto Bagian 8 

Ulang Tahun Pernikahan Kami yang Ke-40

Ulang tahun pernikahan kami yang ke-40 kami rayakan dengan acara yang agak lain. Anak-anak kami yang menetapkan acaranya.

Suasana waktu itu santai, penuh tawa riang. Maklumlah, anak cucu saya semua kumpul.

Pada tanggal 26 Desember 1987 itu, pagi hari saya meletakkan batu pertama pembangunan Museum Purna Bhakti Pertiwi yang akan dibangun di Kelurahan Pinangranti, Jakarta Timur, persis di samping kiri pintu masuk Taman Mini (TMII). Tanahnya seluas hampir 20 Ha.

Di Museum Purna Bhakti Pertiwi ini nanti akan disimpan benda-benda yang ada hubungannya dengan pengabdian saya dan keluarga pada Negara dan Bangsa. Menurut rencana, bangunan itu akan selesai pada tahun 1990.

Sebagian besar dari ide pembangunan museum ini berasal dari istri saya, sebagai ungkapan rasa syukuran kami sekeluarga kepada Yang Maha Kuasa yang telah memberkati perjuangan dan pengabdian kami.

Semula peletakan batu pertama museum keluarga ini akan kami langsungkan pertengahan tahun 1987. Tetapi karena sesuatu hal kami undurkan. Tutut, anak saya yang tertua mengusulkan agar acara ini dilaksanakan pada peringatan ulang tahun pernikahan kami yang keempat puluh.

Lalu di siang harinya selamatan itu dilangsungkan di Sasana Adiguna, di TMII itu. Suasana waktu itu benar-benar santai.

Titiek Puspa hadir, diajak oleh Tutut, untuk meramaikan. Ia mengajukan pada saya sejumlah kuis keluarga yang menyebabkan tambah gembira. Pertanyaan pada saya diajukan, siapa yang membantu keluarga Soeharto pada masa penumpasan G-30-S/PKI. Saya ingat-ingat. Maka saya menjawabnya. Saya katakan, waktu itu saya sibuk menghadapi peristiwa pengkhianatan PKI. Ke rumah kami datang tamu perempuan yang mengaku keluarga. Istri saya curiga. Lalu tamu perempuan itu ditahan oleh Lettu. Wahyudi. Tapi malamnya perempuan itu kabur dan meninggalkan kopornya yang ternyata berisi racun tikus. Rupanya tamu wanita yang tidak kami undang itu bermaksud meracuni kami sekeluarga. Maka Lettu. Wahyudi itulah orangnya yang saya anggap membantu kami sekeluarga pada masa penumpasan G-30-S/PKI.

Anak-anak dan cucu-cucu kumpul. Lalu kami makan bersama hadirin lainnya. Dan acara itu ditutup dengan pementasan “Losmen”, sandiwara yang secara teratur ditayangkan di layar TVRI, dan disukai banyak orang.

Suasana seperti itu menarik saya mengenang apa yang telah terjadi dengan kami sekeluarga, dengan saya, dengan istri saya, dengan anak-anak dan cucu-cucu saya.

Sekarang (1988) anak-anak saya sudah pada besar, sudah dewasa. Lima dari mereka sudah berumah tangga dan kami sekarang sudah bercucu sebanyak 9 orang. Yang sulung, Siti Hardijanti Hastuti Indra Rukmana memilih menjadi wiraswasta di samping menjadi ibu rumah tangga. Tetapi nampak sekali ia lebih cenderung, lebih disibukkan oleh kegiatan-kegiatan sosial.

Yang bungsu, yang keenam, Siti Hutami Endang Adiningsih belum lama ini telah menjadi sarjana, menyelesaikan studinya di Institut Pertanian Bogor. Ia memilih untuk menjadi ahli statistik pertanian.

Sigit Harjojudanto, anak saya yang kedua memilih menjadi pengusaha.

Bambang Trihatmodjo, anak saya yang ketiga terjun ke dunia bisnis.

Siti Hediati Harijadi, keempat, selain menjadi ibu rumah tangga, anggota Pesit tentunya karena suaminya anggota ABRI, giat di bidang sosial, mengurus Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan. Hutomo Mandala Putra, kelima, memilih menjadi pengusaha juga, melewati masa kesukaannya menjadi pembalap dan olahraga terbang.

Alhamdullilah, mereka semua jadi manusia – begitu sebutannya di tengah-tengah kehidupan kita sekarang – sementara saya mengharuskan mereka untuk mengetahui akan kewajiban meerka sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat luas. Kami didik mereka terutama supaya ingat pada orang tua, supaya hormat dan mengerti akan kewajiban mereka sebagai anggota masyarakat, dan selalu takwa kepada Tuhan.

Nampaknya mereka mengerti akan kewajiban mereka untuk menaruh hormat pada kami sebagai orang tua. Mereka mengerti akan kewajiban mereka sebagai anggota masyarakat. Mengikuti petunjuk saya dan petunjuk ibu mereka, mereka giat di bidang sosial.

Tutut menjadi Ketua Umum Himpunan Pekerja Sosial Indonesia (HIPSI) sejak organisasi itu berdiri pada tanggal 11 Maret 1987. Maksudnya untuk meningkatkan mutu pelayanan sosial. Ia pun jadi Bendahara Yayasan Dana Gotong Royong Kemanusiaan (YDGRK). Ia berkunjung ke berbagai daerah yang tertimpa bencana alam dan menyampaikan bantuan yayasan itu.

Tutut juga jadi Ketua Umum Yayasan Tiara Indah, membantu upaya perajin kecil, misalnya penenun dalam memasarkan produksinya. Yayasan ini telah diberi hadiah Upakarti oleh Pemerintah yang diserahkan langsung oleh Presiden.

Tutut juga duduk sebagai pimpinan PT Citra Lamtoro Gung Persada. Ia juga anggota Majelis Pemuda Indonesia. Ia memang tertarik pada pekerjaan sosial. Ia katakan, sejak lahir sampai mati kita ditolong orang lain. Itu ajaran yang kami berikan kepadanya, agar tidak hidup sendirian, tetapi bermasyarakat.

Mereka gerakkan organisasi sosial itu, sehingga sekarang sudah ada empat ratus ribu orang anggotanya, lulusan sekolah kesejahteraan sosial atau sukarelawan yang mendapat latihan khusus di bidang kesejahteraan sosial. Tentang ini Tutut berpikir – sesuai dengan ajaran yang diberikan ibunya – pekerja sosial harus profesional, jangan setengah-setengah.

Anak-anak kami juga mengagumi cara kami membina dan mendidik mereka.

Saya tidak ingin anak-anak saya mendewakan harta dan pangkat. Yang saya harapkan, mereka meningkatkan ketakwaan dan patuh kepada Tuhan, mengabdi kepada orang tua, masyarakat, negara dan bangsa.

Pepatah Jawa menyebutkan, mempunyai harta benda itu tandanya dapat menguasai dunia, hanya saja usahakanlah ketentraman lahir batin, yaitu lahir seimbang dengan batin.

Bagaimana pandangan saya mengenai seseorang yang mendapat rizki cukup di tengah pembangunan kita sekarang?

Memang kita mempunyai hak untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar mendapat rizki yang cukup, dan berusaha dengan memperoleh petunjuk dari Tuhan agar kita mendapat keberuntungan. Kalau keinginan kita itu sampai terwujud, jelas kita harus bersyukur. Kalau kita berhasil lagi, patut kita mensyukuri-Nya lagi. Tapi ingat, kita tidak boleh mendewakan harta, melainkan menggunakannya untuk melaksanakan kewajiban kita, ialah berbuat baik kepada sesama manusia.

Kebahagiaan itu tidak terletak pada pangkat dan kedudukan, tetapi pada amal yang baik. Itulah ajaran yang saya berikan kepada anak-anak saya.

Tutut menyatakan pada sementara media – juga anak-anak kami yang lainnya saya kira – bahwa ia mengagumi keharmonisan hubungan antara ayahnya dan ibunya.

Kami – istri saya dan saya – memang sama-sama setia, saling mencintai, penuh pengertian dan saling mempercayai.

Saya ingat-ingat apa yang telah terjadi di tengah-tengah kami selama ini. Saya teringat akan pihak yang mencoba mendongkel saya. Terdengar issue yang menggugah saya untuk menjawabnya, untuk menerangkan yang sebenarnya.

Issue itu bertautan dengan komisi dan tender. Katanya, istri saya selalu menerima komisi dan menentukan kemenangan suatu tender. Seolah-olah rumah di Jalan Cendana itu, tempat tinggal kami merupakan markas besar untuk menentukan kemenangan tender dan komisi.

Sewaktu memberi sambutan pada HUT Kopasandha (Baret Merah) di Cijantung sekian waktu ke belakang, saya jelaskan yang sebenarnya, “Hal itu sama sekali tidak terjadi. Jangankan untuk memikirkan itu, untuk memikirkan kegiatan sosial saja waktunya sudah tidak mencukupi.”

Ada lagi issue lain. Issue itu menyebutkan seolah-olah saya, Presiden RI, mempunyai selir atau simpanan seorang bintang film terkenal. Issue itu rupanya sudah lama beredar dan dibangkitkan lagi menjelang Pemilu 1982. Padahal kenal dan jumpa pun saya tidak pernah dengannya. Issue-issue semacam itu cuma upaya buruk dari sementara pihak yang tidak suka pada saya.

 

Kalau Ajal Saya Sampai

Kalau saatnya tiba saya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, maka mengenai diri saya selanjutnya sudah saya tetapkan: saya serahkan kepada istri saya.

Sebetulnya, istri saya telah menerima pula “Bintang Gerilya” dan “Bintang RI.” Jadi, dia juga bisa dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Tetapi sudahlah, ia dengan Yayasan Mangadeg Surakarta sudah merencanakan lain. Ia dengan Yayasan Mangadeg Surakarta sudah membangun makam keluarga di Mangadeg, tepatnya di Astana Giribangun. Dan masa’kan saya akan pisah dari istri saya! Dengan sendirinya saya pun akan minta dimakamkan di Astana Giribangun bersama keluarga. Kami tidak mau menyusahkan anak cucu kami, jika mereka nanti ingin berziarah.

Memang saya pun mendengar orang bicara bahwa belum juga saya mati, saya sudah membuat kuburan. Padahal yang sebenarnya, kuburan itu kami buat untuk yang sudah meninggal, antaranya untuk ayah kami (mertua saya). Selain itu, pikiran saya menyebutkan, “Apa salahnya, sebab toh akhirnya kita akan meninggal juga.” Kalau mulai sekarang kita sudah memikirkannya, itu berarti kita tidak akan menyulitkan orang lain. Asalkan tidak menggunakan yang macam-macam, apa jeleknya?

Omongan orang bahwa Astana Giribangun itu dihias dengan emas segala, omong kosong. Tidak benar! Dilebih-lebihkan. Lihat sajalah sendiri.

Yang benar, bangunan itu berlantaikan batu pualam dari Tulung Agung. Tentu saja kayu-kayunya pilihan, supaya kuat. Pintu-pintu di sana, yang dibuat dari besi, adalah karya pematung kita yang terkenal G. Sidharta. Alhasil, segalanya buatan bangsa sendiri.

Ibu mertua saya melakukan cangkulan pertama di Gunung Bangun yang tingginya 666 M di atas permukaan laut itu, pada hari Rabu Kliwon, 13 Dulkangidah jimakir 1906 atau 27 November 1974. Saya bersama istri sebagai pengurus Yayasan Mangadeg Surakarta meresmikan Astana Giribangun itu pada hari Jumat wage tanggal 26 Rejeb ehe 1908 atau 23 Juli 1976. Kebiasaan di Jawa mempergunakan candrasangkala. Maka kami terakan di sana sinengkalan: Rasa Suwung Wenganing Bumi (Rasa Ikhlas Membuka Bumi) waktu ibu melakukan cangkulan pertama itu, dan Ngesti Suwung Wenganing Bumi (Suasana Hening Membuka Bumi) waktu kami meresmikan makam keluarga Yayasan Mangadeg Surakarta itu.

Pada ketiga pintu untuk masuk ke dalam bangunan itu pun ada tulisan yang mengutip pucung, berisikan pegangan hidup yang sudah diajarkan nenek moyang kita secara turun-temurun. Yakni, “hendaknya kita pandai-pandai menerima omongan orang yang menyakitkan tanpa harus sakit hati”, “ikhlas kehilangan tanpa menyesal”, dan “pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa”.

Tak jauh dari bangunan astana itu, lebih dahulu, pada tanggal 8 Juni 1971, sudah diresmikan monumen “Tridharma”, ajaran hidup bernegara yang sangat penting itu.

Alhasil suasana di sana sesuai dengan lingkungannya.

Jadi, hendaknya dimaklumi bahwa kami membangun Astana Giribangun itu, kira-kira 37 Km dari Solo, untuk keluarga. Bahkan tidak hanya untuk keluarga, pengurus Yayasan Mangadeg pun, bisa dimakamkan di sana. Tempat itu sudah dikapling, dan pengelolaannya diserahkan pada Yayasan Mangadeg Surakarta.

Kita yang masih hidup, wajib memikirkan keluarga yang sudah meninggal, seperti saya memikirkan ayah saya. Maka kami membangun makam untuk ayah, dan untuk ibu sekaligus. Di samping itu, saya pikir, baik saja kita berbuat begitu kalau kita tidak mau menyusahkan orang lain, tidak mau menyulitkan anak cucu kita. Dan di Jawa, memang biasa kita menyiapkan tempat sebelum meninggal. Kita menyadari bahwa besok lusa kita toh akan kembali.

***

Dihitung dari sejak lahirnya “Supersemar” sampai tahun 1988 berarti saya memegang pucuk pimpinan sudah dua puluh dua tahun. Saya merenungkannya kembali.

Selalu, sewaktu tugas apa pun yang diberikan kepada saya, saya mohon petunjuk kepada Tuhan.

Alhamdullilah, sampai sekarang saya tidak merasa gagal dalam memegang dan melaksanakan tugas saya.

Kalau ada yang kurang berhasil, maka lantas saya mupus, pasrah. Artinya, saya berpikir, barangkali memang kemampuan saya cuma sampai di situ.

Saya telah berusaha dan nyatanya, seperti yang saya lihat dan pertimbangkan, usaha saya itu berhasil sesuai dengan kemampuan saya. Begitulah saya berpikir. Begitulah penilaian saya. Saya tak pernah merasa gagal. Tetapi kalau ada orang yang menilai lain mengenai hasil pekerjaan saya itu, saya serahkan kembali penilaiannya itu kepada yang bersangkutan.

Demikian perasaan dan pikiran saya sejak masa revolusi. Apa yang ditugaskan kepada saya, saya kerjakan dengan sebaik-baiknya, sambil memohon bimbingan dan petunjuk kepada Tuhan.

Mengenai kesalahan, saya berpikir, “Siapa yang mengukur salah itu? Siapa yang menyalahkan?”

Sekarang, misalnya, pekerjaan sudah saya laksanakan, berjalan baik dan berhasil, menurut ukuran saya. Tetapi kalau ada orang lain yang melihat hasil pekerjaan saya itu dari segi yang lain, lalu menilai salah atau gagal, maka saya akan berkata, “Itu urusan mereka”.

Saya percaya, bahwa apa yang saya kerjakan, setelah saya memohon petunjuk dan bimbingan-Nya, itu adalah hasil bimbingan Tuhan.

***

Di hari-hari belakangan ini saya merenungkan pengalaman saya yang sudah-sudah. Saya ditanya oleh Sekjen Muslim Spanyol, Mr. Alvaro Machardon Comins mengenai pengalaman yang paling melekat di hati saya sebagai seorang militer dan sebagai Presiden.

Benar, pengalaman yang paling melekat di hati bagi saya ialah yang saya dapatkan semasa sebelum kemerdekaan, pada masa penjajahan.

Saya merasa beruntung karena memperoleh kesempatan memiliki ilmu-ilmu kemiliteran. Baik dalam zaman penjajahan tentara Belanda maupun dalam masa penjajahan tentara Jepang. Saya rasakan, ternyata ilmu-ilmu itu kemudian sangat berfaedah bagi saya dalam memberikan pengabdian saya kepada negara dan bangsa. Itu saya rasakan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia maupun dalam mempertahankan kemerdekaan dan melanjutkan cita-cita kemerdekaan.

Sebagai militer, sebagai anggota Tentara Nasional Indonesia, saya merasa terpanggil untuk menyumbangkan ilmu kemiliteran dan pengalaman saya itu sewaktu mempertahankan kemerdekaan, memenuhi pengabdian kepada negara dan bangsa yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Sebagai Presiden, saya hanya merasa, bahwa saya memperoleh kepercayaan dari rakyat. Karena itu, saya selalu ingin menghargai dan menghormati kepercayaan itu dengan bekerja sebaik mungkin.

Pengalaman saya sebelum menjadi Presiden, sewaktu saya menjadi seorang militer, terutama dalam masa perjuangan kemerdekaan, sewaktu saya memimpin perlawanan gerilya, melawan tentara penjajah yang memiliki senjata lebih lengkap, terkenang terus. Saya sadar waktu itu, saya merasa tidak bisa berbuat apa pun tanpa bantuan rakyat. Sehingga benar-benar saya merasakan betapa pentingnya memperoleh bantuan dan dukungan rakyat itu. Dengan adanya bantuan rakyat itu, maka saya bersama pasukan saya dapat melaksanakan tugas perlawanan gerilya dengan sebaik-baiknya.

Karena itu, saya selalu merasakan sampai menjadi pendirian bahwa saya berhutang budi kepada rakyat. Dan selalu saya ingin membalas budi kepada mereka.

Saya berpikir, selama melaksanakan kepercayaan dari rakyat ini, sebagai Presiden, inilah kesempatan untuk membalas budi rakyat itu. Masa ini saya gunakan sebaik-baiknya untuk membalas budi kepada rakyat Indonesia yang 80% terdiri dari para petani.

***

Pendahulu-pendahulu kita, pahlawan-pahlawan kita, pejuang-pejuang kita telah memberikan segala-galanya kepada kita semua sehingga kita sekarang telah lebih dari 40 tahun menjadi bangsa yang merdeka dan terhormat di tengah-tengah pergaulan masyarakat dunia.

Dengan rasa tulus, saya, dan sepatutnya kita semua, menyampaikan rasa hormat sebesar-besarnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka, pendahulu-pendahulu kita itu.

Sesungguhnya saya menyampaikan juga rasa hormat dan penghargaan itu kepada berjuta-juta warganegara Indonesia yang masih hidup sekarang dan yang telah mengambil bagian dalam perjuangan, baik dalam perjuangan yang berbentuk kemiliteran maupun dalam bidang pemikiran, ideologi, politik, diplomasi, ekonomi, kebudayaan, keagamaan, ilmu teknologi, dan seterusnya.

Dalam rangka kelanjutan perjuangan bangsa kita di masa depan, negara dan bangsa kita masih tetap mengharapkan pengabdian mereka, pengabdian kita semua, terlepas dari pertanyaan apakah kita telah tergolong purnawirawan atau pensiunan atau tidak. Seperti berulang kali saya katakan, bagi suatu bangsa pejuang tidak ada titik akhir perjuangan.

Seperti saya kemukakan, saya – dan sepantasnya kita semua – memberikan hormat kepada pendahulu-pendahulu kita. Semoga generasi-generasi yang akan datang pun mengucapkan terima kasih yang sama dalamnya dan sama tulusnya, sama dengan yang kita sampaikan kepada generasi-generasi pendahulu kita.

Kesempatan ini saya pergunakan lagi untuk menyalurkan isi hati saya yang utama. Keinginan saya yang utama adalah membangun masyarakat Pancasila yang menjaga keutuhan manusia, yang menjamin keseimbangan kemajuan lahir dan kedamaian batin, yang menjamin keseimbangan antara manusia dan masyarakat, yang menjamin keseimbangan antara manusia dengan lingkungan alam yang didiaminya, keseimbangan dalam mengejar kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di hari nanti.

***

Saya, sebagai manusia biasa, mempunyai keterbatasan. Baik fisik maupun psikis. Tentu saja pekerjaan-pekerjaan yang saya pikul itu sering terasa melelahkan. Akan tetapi saya merasa terhibur, karena saya merasa memperoleh kepercayaan rakyat.

Ingat, pada mulanya saya enggan menerima kedudukan sebagai Presiden. Maklumlah kiranya, tugas kepresidenan adalah pekerjaan yang berat. Tetapi akhirnya saya menerimanya juga, dan itu semata karena rakyat mendesak-desakkannya kepada saya, karena mereka menunjukkan kepercayaan kepada saya.

Di balik itu, saya berpikir, sebagai seorang warganegara yang baik, saya tidak boleh menghindarkan diri dari apa yang diharapkan oleh rakyat.

Maka saya berusaha melaksanakan kepercayaan rakyat itu dengan sebaik-baiknya.

Apalagi kalau hasil-hasil pekerjaannya itu betul-betul bisa dinikmati oleh rakyat. Saya jadi gembira karenanya. Kelelahan saya seperti hilang dengan seketika.

Nyatanya saya mendapat kepercayaan rakyat itu bukan sekali. Nyatanya saya terpilih menjadi Presiden penuh/Mandataris MPR itu lima kali sudah dan memikul tugas itu dengan kesungguhan.

Alhamdullilah, sekarang sistem yang bisa menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa sudah kita dapatkan. Terbukti diperlukan waktu berjuang dan bermufakat sampai 20 tahun untuk sampai pada titik menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas. Tetapi bagaimanapun, kita berkesampaian.

Rantai mekanisme kepemimpinan nasional sudah berhasil kita tentukan. Urutan GBHN sudah kita pastikan dari waktu ke waktu. Itulah warisan yang akan kita tinggalkan kepada generasi yang akan datang.

Generasi yang akan datang tidak perlu takut, tidak perlu khawatir, bahwa kita akan meninggalkan beban yang harus dipikul oleh mereka. Kita berusaha keras meninggalkan hal-hal yang baik. Cita-cita kita jelas, agar tercipta masyarakat yang adil dan makmur, “tata tentrem kerta raharja, gemah ripah loh jinawi tuwuh kang sarwa tinandur, murah kang sarwa tinuku.”

Marilah kita memberikan sumbangsih menurut kemampuan kita masing-masing.

Saya pun tahu, saya tidak luput dari kesalahan. Maka seperti berulang kali pernah saya katakan, di sini pun saya ulangi lagi, hendaknya orang lain mengikuti contoh-contoh yang baik yang telah saya berikan kepada nusa dan bangsa, dan menjauhi hal-hal yang buruk yang mungkin telah saya lakukan selama saya memikul tugas saya.

Berkenaan dengan pemindahan kekuasaan, sudah saya tunjukkan jalannya, yakni dengan cara damai dan menurut konstitusi, yang hendaknya terus berlaku untuk masa sekarang maupun untuk masa yang akan datang.

Kalau ditanya, apa wasiat saya kalau saya nanti pada waktunya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa? Wasiat saya, sebenarnya bukan wasiat saya sendiri, melainkan wasiat atau pesan kita bersama. Yakni, agar mereka yang sesudah kita benar-benar dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini.

Saya pikir, yang penting adalah suatu pengelolaan Negara Republik Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 sedemikian rupa sehingga cita-cita perjuangan bangsa kita benar-benar terlaksana dan tercapai dengan sebaik-baiknya.

Selama bangsa Indonesia tetap berpegang kepada Pancasila sebagai landasan idiilnya, dan UUD’45 sebagai landasan konstitusinya, (dan tetap setia kepada cita-cita perjuangannya, ialah mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila), dengan sendirinya persatuan dan kesatuan bangsa itu akan bisa terwujud. Berpegang kepada kedua hal itu, cita-cita perjuangan sebagai bangsa yang tetap ingin merdeka, berdaulat, bisa hidup dalam kemakmuran dan keadilan, niscaya akan tercapai!

Insya Allah!

< Muka


WI Edisi 953

Beredar:
Kamis, 13 Maret 2008


 

 

cermin
keluarga
puanmetro
wisata

Tabloid Wanita Indonesia
Jl. Tebet Barat Raya No. 52 Jakarta Selatan 12810
Telp. 021-8308737 (hunting) Fax. 021-8293148
email:
wi2001@cbn.net.id