Home | Agenda | Iklan | Kontak Kami  | Polling | Redaksi | WI Lovers | Arsip Edisi 952 / 10 - 16 Maret / 2008
Berita Aktual
Bintang Anda
Kisah Sejati
Konsultasi
Ibu Anak
Menu Pintar
Sehat
 

 Kisah Sejati

 

Tawa dan Air Mata Juwita

Masihkah Juwita To-fhany,12, artis sinetron dan penyanyi dangdut sakit hati dengan kata-kata ibu kandungnya,  Anissa  Bahar, yang mengaku tak memiliki anak, saat Juwita berusia 6 tahun?

Juwita, 12, keluar dari mobil sedan merah Suzuki Swift di halaman parkir  sebuah rumah megah, tempat syuting sinetron Suci, Jl. Gempol I, Jakarta Timur, yang tayang di SCTV.  Gadis kelahiran 11 Januari 1996 itu berlari-lari kecil, rintik hujan membasahi rambutnya yang hitam panjang. Sore itu, Juwita baru saja pulang dari  Semarang. Malamnya, ia harus syuting.  

Tak terlihat lelah di mata Juwita. Mata bulatnya berbinar-binar. Padahal   semalam ia nyanyi di Semarang dalam Konser Seksi , bareng Ahmad Dani dan Mulan Jameela.   

“Kemarin saya, Papa, Nanda (adik Juwita, satu bapak, lain ibu) pagi-pagi berangkat dari Jakarta ke Semarang. Langsung GR (gladi resik-red), di panggung, baru masuk hotel tengah malam. Pagi-pagi sekali kami  langsung berangkat ke Jakarta. Langsung deh ke sini. Karena ada janji  pemotretan dengan WI dan syuting  sinetron Suci,” ujar Juwita.

           

Bahagia dan Bahagia 

Aku sangat menikmati kegiatanku sekarang. Syuting dan nyanyi. Aku tak merasa lelah. Aku bahagia dan bahagia. Di manapun aku nyanyi dan syuting, aku selalu menganggap lokasi syuting dan panggung nyanyi itu seperti rumahku sendiri. Seperti saat manggung kemarin. Sambil menunggu giliran menyanyi, aku bisa  istirahat, tiduran di sofa.   

Begitu pula saat  syuting sinetron Suci, aku merasa santai banget, seperti di rumah. Kami syuting di sebuah rumah yang besar, banyak kamarnya. Aku bisa tidur  nyenyak di sini.  Bisa bercanda-canda dengan para kru.  Mereka semua baik. Selalu menegurku.

Yang paling utama yang membuat aku nyaman adalah, Papa dan Nanda selalu mendampingiku. Kemarin ke Semarang, Nanda dan Papa juga ikut.  Pokoknya kemanapun aku pergi, Papa dan Nanda selalu  ada. 
    

‘Lagu apa itu Kucing Garong?’

Berkah  nyanyi dan sinetron ini  berawal  di bulan Mei 2007. Aku tak akan pernah melupakan peristiwa ini. Saat itu, aku, Papa dan Nanda  berada di atas motor. Handphone papa berbunyi, dari layar hp terlihat nomor yang tak dikenal oleh Papa.  Ternyata dari panitia SCTV Music Award yang diadakan di SCTV, yang memintaku  nyanyi   Kucing Garong.

‘Hah, lagu jenis apa Kucing Garong? Saya belum pernah dengar,’ kata Papa.

Panitia Music Award itu berkata, ‘Kucing Garong itu ada dua versi, versi Indonesia dan versi Jawa.’

‘Anak saya versi yang mana?’ tanya Papa, waktu itu.

Kucing Garong versi Indonesia,’ kata panitia. 

Sampai rumah kontrakan, aku dan Papa bengong, nggak percaya mendapat tawaran nyanyi di stasiun teve. Gila, aku tiba-tiba jadi artis. Selama ini aku cuma nyanyi di  kamar mandi, di kelas RW, dan panggung-panggung kecil. Aku benar-benar kaget, sekaligus melonjak kegirangan. Alangkah beruntungnya aku tiba-tiba mendapat tawaran nyanyi, di acara bergengsi. Ya Tuhan terima kasih.  Aku berjanji akan berlatih giat. Aku berjanji akan bernyanyi sebaik-baiknya. 

Detik itu juga, aku, papa, dan Nanda mencari album kaset Kucing Garong versi Indonesia. Aku nggak kesulitan bernyanyi lagu tersebut. Papalah yang melatih dan terus-menerus memperbaiki olah vokalku. Tiga hari kemudian, papa kembali ditelpon, meminta kami untuk  latihan bersama  penari. 

Cuma setengah jam  latihan, aku langsung hapal.  Alhamdulillah, aku  mudah sekali mengingat tarian itu dan lagunya.

Di hari H, di acara SCTV Music Award, dag dig dug jantungku. Aku takut penampilanku jelek. Papa yang menyemangatiku, aku bisa, aku akan bisa menghibur penonton.

Mei 2007, Rezeki Pertamaku

‘Sst, Juwi itu punya talenta yang kuat,’ kata Papa.

Saat nyanyi di panggung, mula-mula aku sedikit gugup. Tapi lama kelamaan aku menikmati. Bahkan aku ingin nyanyi lagi. Apalagi, aplaus dari penonton sangat meriah.   Banyak yang menyalami aku dan papa.

Ternyata di acara itu ada produser yang tertarik mengajak  rekaman, namanya Pak Rahayu, Produser Nagaswara. Dia langsung menghubungi Papa.  

Aku benar-benar nggak menyangka, langkahku di dunia entertain sangat mudah.  Apa yang aku mimpikan, begitu mudah terwujud. Aku berharap, karierku ini terus bertahan. Bahkan terus menanjak.

Tak cuma album, aku juga mendapat tawaran main sinetron. Sebelum ini, aku sudah main di sinetron  Tuhan Ada di Mana-Mana, Bunga di Tepi Jalan, Di Sini Ada Setan.  Ya ampun benar-benar kaget dan nggak menduga. Aku, papa dan Nanda sampai bertangis-tangisan  terharu. Papakulah yang mengajariku akting.   

Kemudian aku main di sinetron Eneng. Alhamdulillah sinetronku mendapat  rating tertinggi di SCTV. Ini semua karunia Tuhan. Jalan karierku sangat mulus berjalan. Aku juga nggak kesulitan menyanyikan 11 lagu di  album baruku. Cukup satu kali aku baca langsung aku bisa.  Penggarapan album ini kurang dari 3 bulan.  Akhir tahun lalu, aku meluncurkan album dangdutku bertajuk Maybe Yes, Maybe No di Ancol. 

Hatiku terasa terbang ke langit ke 7 ketika album itu  selesai.  Aku benar-benar tak menyangka. Membuat album adalah impian setiap penyanyi. Dan aku  berhasil menelurkan albumku. Sekarang aku berharap albumku ini disukai masyarakat. Hingga bisa mendongkrak karierku di dunia dangdut.  

Apa yang kuperoleh semua ini berkat  kasih sayang papa, yang mendidik dan merawatku sejak kecil. 

 

Sebungkus Mie Buat Bertiga

Sekarang aku sudah punya  dua mobil, Avanza dan Suzuki Swift.  Kalau Avanza itu hasil kerjaku. Sedangkan Suzuki Swift dari Pak Rahayu, produser album Nagaswara.

Aku juga menikmati bermain  di mal-mal, yang dulu tak pernah kusentuh dan sangat aku inginkan. Aku sekarang bisa sepuasnya main bom-bom car, dan berbagai permainan di arena  mainan bersama  adikku  Nanda. Papa selalu setia menemani kami bermain.

Saat aku duduk di dalam mobilku, aku masih merasakan kehidupan kami sebelumnya. Tiap aku pandangi  trotoar, aku ingat diriku yang bersama Papa dan Nanda naik motor bertiga. Seringkali motor butut Papa mogok di jalan, sehingga aku dan  Nanda beberapa kali terkena air hujan.

Setahun yang lalu, aku, papa dan Nanda masih menggunakan motor. Setiap aku syuting sinetron, Papa mengantarku naik motor. Seringkali karena motornya mogok,  kami terpaksa naik angkutan bus kota.

Maka itu, masih lekat panas dan wangi matahari di kulitku, yang memanggangku ketika berboncengan dengan papa. Air mataku menetes, bila melihat teman-teman pengamen terutama perempuan, bersusah payah di pinggir jalan. Maka itu aku selalu menyiapkan sedikit uang untuk mereka.

 Dulu aku juga seperti mereka. Aku, papa dan Nanda sering hanya makan mie instan satu  bungkus bertiga.  Papa sering tak tega pada kami. Sehingga ia hanya makan sedikit. Atau pura-pura mengunyah makanan. Padahal aku tahu kalau Papa makan sangat sedikit. Kami juga sering makan nasi dengan krupuk saja. Aku dan Nanda merasa nikmat-nikmat saja.  

Bagiku, papa, dan Nanda, saat-saat pahit, naik motor, kehujanan, naik angkutan, kelaparan, aku kenang sebagai suatu yang sangat manis. 

Namun ada kenangan pahit yang tak bisa lepas dari benakku, adalah saat  Mama Anissa Bahar berbicara pada media massa, pada infotainmen, koran dan lain-lain, kalau aku bukan anak kandungnya. Dari dulu, mama nggak pernah mengakui aku sebagai anaknya. Mama mengaku masih gadis. Kata-kata ini masih tersimpan di hatiku sampai sekarang.


Sakit Hati di Usia 6 Tahun 

 Hatiku terasa sangat sakit. Waktu itu usiaku baru 6 tahun. Setiap mama membela diri dengan mengatakan masih gadis di televisi, aku langsung masuk kamar, dan sepuas-puasnya menangis dan mengadu pada Tuhan. Untuk masalah yang satu ini aku tak pernah  utarakan pada Papa. Aku  tak ingin membuat Papa susah. 

Maka itu, Mama sendiri yang memutuskan silaturahmi di antara kita. Saat ini belum terpikir olehku akan menjalin silaturahmi lagi dengan mama.

Aku  enggan merekatkan hubungan kembali dengan penyanyi goyang patah-patah itu. Aku nggak pernah menghubungi mama, karena kami memang sudah nggak ada hubungan lagi. Sedangkan papa, berkali-kali berusaha mendamaikan aku dan Mama.  Jujur saja, aku tetap menganggap Mama Anissa Bahar, ibu kandungku. Karena Mamalah yang mengandung dan melahirkan aku. Tapi jangan paksakan hati ini untuk  merindukan sosoknya.  

Perasaanku sendiri biasa saja pada Mama. Tak ada yang istimewa. Aku sering menyesali diri kenapa Mama setega itu berbicara di depan kamera, kalau dia belum punya anak. Kata-kata  telah memutuskan tali silaturahmi antara aku dan mama. Padahal, sebelumnya aku sangat bangga melihat Mama tampil di televisi. Andai saja, Mama tak pernah berkata yang menyakiti hatiku…. 
 

Divonis Lumpuh

Aku sangat mencintai Papa. Papalah yang membentukku hingga aku mampu berakting dan bernyanyi. Papa yang selalu menjaga dan merawatku, yang selalu menghibur dan berdoa untukku pada saat aku sakit.

Papa adalah orang tua yang hebat. Bayangkan, papa sanggup mendidik aku dan Nanda.  Selain itu papa juga harus bekerja mencari uang untuk kami. Selama 4 tahun belakangan ini, papa tak lagi beristri. Selama itu papa jadi ibu sekaligus ayah bagiku. 

Saat-saat sulit, papalah yang mencuci, memasak dan membersihkan rumah kontrakan kami. Mau tahu makanan favorit kami, nasi goreng dengan taburan pete yang banyak.

Papa yang mengajarkan aku untuk hidup prihatin, dan tak melupakan masa lalu. Papa segala-galanya bagiku. Papa nggak cuma jago  memasak, tapi juga jago jadi penata rias. Papalah yang mendadaniku  setiap aku manggung dan syuting. Papa juga  yang mencarikan pakaian untukku. Aku sangat mencintai Papa.  

Ketika  aku kecil, usia 3 – 5 tahun, papa mengatakan kalau aku punya suara yang bagus. Kata papa, suaraku lebih cocok nyanyi lagu pop, tak seperti Mama yang mengambil jalur dangdut.  

Saat terpahit dalam kehidupan papa adalah, saat aku koma selama 15 hari di tahun 2006.  Waktu itu kepalaku sangat pusing,  papa membawaku  ke rumah sakit. Saat diperiksa oleh dokter, sakit kepalaku semakin menjadi. Bahkan membuat mataku makin gelap, dan gelap… lalu aku tak ingat apa-apa lagi.

Kata papa saat itu, aku kejang.  Dokter segera memberikan pertolongan padaku.   Saat itu juga, Papa menelpon Mama. Papa takut, terjadi apa-apa padaku.  Maka itu ia perlu menelpon Mama. Mama segera datang.  

Dokter mengatakan, kalau aku terkena radang otak. Kemungkinan jika aku sembuh, aku akan mengalami kelumpuhan.  Papa terhenyak kaget mendengar penjelasan dokter.   
 

Belajar Jalan

Papa selalu menjagaku, bahkan Nanda  ikut menjagaku. Karena kalau Nanda di rumah, siapa yang akan  menjaga Nanda? Karena tak boleh menginap di dalam ruangan, Nanda dan Papa menginap di emperan rumah sakit. Kasihan sekali Papa dan Nanda, pasti kedinginan.  Kata papa, banyak orang yang menolong papa dan Nanda. Mereka iba melihat Nanda, dan mengajak Nanda  juga papa makan.

Papa tak pernah putus berdoa untukku, pagi, siang dan malam. Bahkan Papa berkeliling di sekitar rumah sakit untuk minta doa pada  tukang sapu, pengamen, satpam dan lain-lain agar mereka mendoakanku cepat sadar dari  koma.

Dari hari ke hari tak ada perubahan pada diriku. Aku tetap koma, tak satupun anggota tubuhku yang bergerak. Setelah 15 hari koma, tiba-tiba aku bangun. Aku bingung, aku berada di mana?

‘Pa, aku ada di mana ini?’

Papa langsung memelukku dengan air mata bercucuran. Sambil mengucapkan syukur pada Allah.  Pelan-pelan aku duduk. Saat akan  berdiri, aku melakukannya susah payah. Papa memapahku. Aku takut kakiku lumpuh. Maka itu aku paksakan berjalan pelan-pelan.  Setelah beberapa hari latihan berjalan, aku kembali berjalan normal. Maklum saja, aku di tempat tidur terus-terusan selama 15 hari, membuat otot-otot di seluruh tubuhku  tak aktif. Dan pada saat digerakkan, otot-otot itu telah kaku. 

Saat aku bangun dari koma, papa segera menghubungi Mama. Mama datang  ke rumah sakit. Dan entah mengapa, rasa sakit di hati itu masih ada.   Witri Suarti

< Muka


WI Edisi 953

Beredar:
Kamis, 13 Maret 2008


 

 

cermin
keluarga
puanmetro
wisata

Tabloid Wanita Indonesia
Jl. Tebet Barat Raya No. 52 Jakarta Selatan 12810
Telp. 021-8308737 (hunting) Fax. 021-8293148
email:
redaksi@tabloid-wanita-indonesia.com