Tawa dan Air Mata Juwita
Masihkah Juwita
To-fhany,12, artis sinetron dan penyanyi dangdut sakit hati dengan kata-kata
ibu kandungnya, Anissa Bahar, yang mengaku tak memiliki anak, saat Juwita
berusia 6 tahun?
Juwita, 12, keluar dari mobil sedan merah Suzuki
Swift di halaman parkir sebuah rumah megah, tempat syuting sinetron Suci,
Jl. Gempol I, Jakarta Timur, yang tayang di SCTV. Gadis kelahiran 11
Januari 1996 itu berlari-lari kecil, rintik hujan membasahi rambutnya yang
hitam panjang. Sore itu, Juwita baru saja pulang dari Semarang. Malamnya,
ia harus syuting.
Tak terlihat lelah di mata Juwita. Mata bulatnya
berbinar-binar. Padahal semalam ia nyanyi di Semarang dalam Konser
Seksi , bareng Ahmad Dani dan Mulan Jameela.
“Kemarin saya, Papa, Nanda
(adik Juwita, satu bapak, lain ibu) pagi-pagi berangkat dari Jakarta ke
Semarang. Langsung GR (gladi resik-red), di panggung, baru masuk hotel
tengah malam. Pagi-pagi sekali kami langsung berangkat ke Jakarta. Langsung
deh ke sini. Karena ada janji pemotretan dengan WI dan syuting sinetron
Suci,” ujar Juwita.
Bahagia dan Bahagia
Aku sangat menikmati kegiatanku sekarang. Syuting
dan nyanyi. Aku tak merasa lelah. Aku bahagia dan bahagia. Di manapun aku
nyanyi dan syuting, aku selalu menganggap lokasi syuting dan panggung nyanyi
itu seperti rumahku sendiri. Seperti saat manggung kemarin. Sambil menunggu
giliran menyanyi, aku bisa istirahat, tiduran di sofa.
Begitu pula saat syuting sinetron Suci, aku
merasa santai banget, seperti di rumah. Kami syuting di sebuah rumah yang
besar, banyak kamarnya. Aku bisa tidur nyenyak di sini. Bisa
bercanda-canda dengan para kru. Mereka semua baik. Selalu menegurku.
Yang paling utama yang membuat aku nyaman adalah,
Papa dan Nanda selalu mendampingiku. Kemarin ke Semarang, Nanda dan Papa
juga ikut. Pokoknya kemanapun aku pergi, Papa dan Nanda selalu ada.
‘Lagu apa itu Kucing
Garong?’
Berkah nyanyi dan sinetron ini berawal di
bulan Mei 2007. Aku tak akan pernah melupakan peristiwa ini. Saat itu, aku,
Papa dan Nanda berada di atas motor. Handphone papa berbunyi, dari layar hp
terlihat nomor yang tak dikenal oleh Papa. Ternyata dari panitia SCTV
Music Award yang diadakan di SCTV, yang memintaku nyanyi Kucing
Garong.
‘Hah, lagu jenis apa Kucing Garong? Saya
belum pernah dengar,’ kata Papa.
Panitia Music Award itu berkata, ‘Kucing
Garong itu ada dua versi, versi Indonesia dan versi Jawa.’
‘Anak saya versi yang mana?’ tanya Papa, waktu
itu.
‘Kucing Garong versi Indonesia,’ kata
panitia.
Sampai rumah kontrakan, aku dan Papa bengong,
nggak percaya mendapat tawaran nyanyi di stasiun teve. Gila, aku tiba-tiba
jadi artis. Selama ini aku cuma nyanyi di kamar mandi, di kelas RW, dan
panggung-panggung kecil. Aku benar-benar kaget, sekaligus melonjak
kegirangan. Alangkah beruntungnya aku tiba-tiba mendapat tawaran nyanyi, di
acara bergengsi. Ya Tuhan terima kasih. Aku berjanji akan berlatih giat.
Aku berjanji akan bernyanyi sebaik-baiknya.
Detik itu juga, aku, papa, dan Nanda mencari
album kaset Kucing Garong versi Indonesia. Aku nggak kesulitan
bernyanyi lagu tersebut. Papalah yang melatih dan terus-menerus memperbaiki
olah vokalku. Tiga hari kemudian, papa kembali ditelpon, meminta kami untuk
latihan bersama penari.
Cuma setengah jam latihan, aku langsung hapal.
Alhamdulillah, aku mudah sekali mengingat tarian itu dan lagunya.
Di hari H, di acara SCTV Music Award, dag
dig dug jantungku. Aku takut penampilanku jelek. Papa yang menyemangatiku,
aku bisa, aku akan bisa menghibur penonton.
Mei 2007, Rezeki Pertamaku
‘Sst, Juwi itu punya talenta yang kuat,’ kata
Papa.
Saat nyanyi di panggung, mula-mula aku sedikit
gugup. Tapi lama kelamaan aku menikmati. Bahkan aku ingin nyanyi lagi.
Apalagi, aplaus dari penonton sangat meriah. Banyak yang menyalami aku dan
papa.
Ternyata di acara itu ada produser yang tertarik
mengajak rekaman, namanya Pak Rahayu, Produser Nagaswara. Dia langsung
menghubungi Papa.
Aku benar-benar nggak menyangka, langkahku di
dunia entertain sangat mudah. Apa yang aku mimpikan, begitu mudah terwujud.
Aku berharap, karierku ini terus bertahan. Bahkan terus menanjak.
Tak cuma album, aku juga mendapat tawaran main
sinetron. Sebelum ini, aku sudah main di sinetron Tuhan Ada di
Mana-Mana, Bunga di Tepi Jalan, Di Sini Ada Setan. Ya ampun benar-benar
kaget dan nggak menduga. Aku, papa dan Nanda sampai bertangis-tangisan
terharu. Papakulah yang mengajariku akting.
Kemudian aku main di
sinetron Eneng. Alhamdulillah sinetronku mendapat rating tertinggi
di SCTV. Ini semua karunia Tuhan. Jalan karierku sangat mulus berjalan. Aku
juga nggak kesulitan menyanyikan 11 lagu di album baruku. Cukup satu kali
aku baca langsung aku bisa. Penggarapan album ini kurang dari 3 bulan.
Akhir tahun lalu, aku meluncurkan album dangdutku bertajuk Maybe Yes,
Maybe No di Ancol.
Hatiku terasa terbang ke
langit ke 7 ketika album itu selesai. Aku benar-benar tak menyangka.
Membuat album adalah impian setiap penyanyi. Dan aku berhasil menelurkan
albumku. Sekarang aku berharap albumku ini disukai masyarakat. Hingga bisa
mendongkrak karierku di dunia dangdut.
Apa yang kuperoleh semua ini
berkat kasih sayang papa, yang mendidik dan merawatku sejak kecil.
Sebungkus Mie Buat Bertiga
Sekarang aku sudah punya
dua mobil, Avanza dan Suzuki Swift. Kalau Avanza itu hasil kerjaku.
Sedangkan Suzuki Swift dari Pak Rahayu, produser album Nagaswara.
Aku juga menikmati bermain
di mal-mal, yang dulu tak pernah kusentuh dan sangat aku inginkan. Aku
sekarang bisa sepuasnya main bom-bom car, dan berbagai permainan di arena
mainan bersama adikku Nanda. Papa selalu setia menemani kami bermain.
Saat aku duduk di dalam
mobilku, aku masih merasakan kehidupan kami sebelumnya. Tiap aku pandangi
trotoar, aku ingat diriku yang bersama Papa dan Nanda naik motor bertiga.
Seringkali motor butut Papa mogok di jalan, sehingga aku dan Nanda beberapa
kali terkena air hujan.
Setahun yang lalu, aku, papa
dan Nanda masih menggunakan motor. Setiap aku syuting sinetron, Papa
mengantarku naik motor. Seringkali karena motornya mogok, kami terpaksa
naik angkutan bus kota.
Maka itu, masih lekat panas
dan wangi matahari di kulitku, yang memanggangku ketika berboncengan dengan
papa. Air mataku menetes, bila melihat teman-teman pengamen terutama
perempuan, bersusah payah di pinggir jalan. Maka itu aku selalu menyiapkan
sedikit uang untuk mereka.
Dulu aku juga seperti
mereka. Aku, papa dan Nanda sering hanya makan mie instan satu bungkus
bertiga. Papa sering tak tega pada kami. Sehingga ia hanya makan sedikit.
Atau pura-pura mengunyah makanan. Padahal aku tahu kalau Papa makan sangat
sedikit. Kami juga sering makan nasi dengan krupuk saja. Aku dan Nanda
merasa nikmat-nikmat saja.
Bagiku, papa, dan Nanda,
saat-saat pahit, naik motor, kehujanan, naik angkutan, kelaparan, aku kenang
sebagai suatu yang sangat manis.
Namun ada kenangan pahit
yang tak bisa lepas dari benakku, adalah saat Mama Anissa Bahar berbicara
pada media massa, pada infotainmen, koran dan lain-lain, kalau aku bukan
anak kandungnya. Dari dulu, mama nggak pernah mengakui aku sebagai anaknya.
Mama mengaku masih gadis. Kata-kata ini masih tersimpan di hatiku sampai
sekarang.
Sakit Hati di Usia 6 Tahun
Hatiku terasa sangat sakit.
Waktu itu usiaku baru 6 tahun. Setiap mama membela diri dengan mengatakan
masih gadis di televisi, aku langsung masuk kamar, dan sepuas-puasnya
menangis dan mengadu pada Tuhan. Untuk masalah yang satu ini aku tak pernah
utarakan pada Papa. Aku tak ingin membuat Papa susah.
Maka itu, Mama sendiri yang
memutuskan silaturahmi di antara kita. Saat ini belum terpikir olehku akan
menjalin silaturahmi lagi dengan mama.
Aku enggan merekatkan
hubungan kembali dengan penyanyi goyang patah-patah itu. Aku nggak pernah
menghubungi mama, karena kami memang sudah nggak ada hubungan lagi.
Sedangkan papa, berkali-kali berusaha mendamaikan aku dan Mama. Jujur saja,
aku tetap menganggap Mama Anissa Bahar, ibu kandungku. Karena Mamalah yang
mengandung dan melahirkan aku. Tapi jangan paksakan hati ini untuk
merindukan sosoknya.
Perasaanku sendiri biasa
saja pada Mama. Tak ada yang istimewa. Aku sering menyesali diri kenapa Mama
setega itu berbicara di depan kamera, kalau dia belum punya anak. Kata-kata
telah memutuskan tali silaturahmi antara aku dan mama. Padahal, sebelumnya
aku sangat bangga melihat Mama tampil di televisi. Andai saja, Mama tak
pernah berkata yang menyakiti hatiku….
Divonis Lumpuh
Aku sangat mencintai Papa. Papalah yang
membentukku hingga aku mampu berakting dan bernyanyi. Papa yang selalu
menjaga dan merawatku, yang selalu menghibur dan berdoa untukku pada saat
aku sakit.
Papa adalah orang tua yang hebat. Bayangkan, papa
sanggup mendidik aku dan Nanda. Selain itu papa juga harus bekerja mencari
uang untuk kami. Selama 4 tahun belakangan ini, papa tak lagi beristri.
Selama itu papa jadi ibu sekaligus ayah bagiku.
Saat-saat sulit, papalah yang mencuci, memasak
dan membersihkan rumah kontrakan kami. Mau tahu makanan favorit kami, nasi
goreng dengan taburan pete yang banyak.
Papa yang mengajarkan aku untuk hidup prihatin,
dan tak melupakan masa lalu. Papa segala-galanya bagiku. Papa nggak cuma
jago memasak, tapi juga jago jadi penata rias. Papalah yang mendadaniku
setiap aku manggung dan syuting. Papa juga yang mencarikan pakaian untukku.
Aku sangat mencintai Papa.
Ketika aku kecil, usia 3 – 5 tahun, papa
mengatakan kalau aku punya suara yang bagus. Kata papa, suaraku lebih cocok
nyanyi lagu pop, tak seperti Mama yang mengambil jalur dangdut.
Saat terpahit dalam kehidupan papa adalah, saat
aku koma selama 15 hari di tahun 2006. Waktu itu kepalaku sangat pusing,
papa membawaku ke rumah sakit. Saat diperiksa oleh dokter, sakit kepalaku
semakin menjadi. Bahkan membuat mataku makin gelap, dan gelap… lalu aku tak
ingat apa-apa lagi.
Kata papa saat itu, aku kejang. Dokter segera
memberikan pertolongan padaku. Saat itu juga, Papa menelpon Mama. Papa
takut, terjadi apa-apa padaku. Maka itu ia perlu menelpon Mama. Mama segera
datang.
Dokter mengatakan, kalau aku terkena radang otak.
Kemungkinan jika aku sembuh, aku akan mengalami kelumpuhan. Papa terhenyak
kaget mendengar penjelasan dokter.
Belajar Jalan
Papa selalu menjagaku, bahkan Nanda ikut
menjagaku. Karena kalau Nanda di rumah, siapa yang akan menjaga Nanda?
Karena tak boleh menginap di dalam ruangan, Nanda dan Papa menginap di
emperan rumah sakit. Kasihan sekali Papa dan Nanda, pasti kedinginan. Kata
papa, banyak orang yang menolong papa dan Nanda. Mereka iba melihat Nanda,
dan mengajak Nanda juga papa makan.
Papa tak pernah putus berdoa untukku, pagi, siang
dan malam. Bahkan Papa berkeliling di sekitar rumah sakit untuk minta doa
pada tukang sapu, pengamen, satpam dan lain-lain agar mereka mendoakanku
cepat sadar dari koma.
Dari hari ke hari tak ada perubahan pada diriku.
Aku tetap koma, tak satupun anggota tubuhku yang bergerak. Setelah 15 hari
koma, tiba-tiba aku bangun. Aku bingung, aku berada di mana?
‘Pa, aku ada di mana ini?’
Papa langsung memelukku dengan air mata
bercucuran. Sambil mengucapkan syukur pada Allah. Pelan-pelan aku duduk.
Saat akan berdiri, aku melakukannya susah payah. Papa memapahku. Aku takut
kakiku lumpuh. Maka itu aku paksakan berjalan pelan-pelan. Setelah beberapa
hari latihan berjalan, aku kembali berjalan normal. Maklum saja, aku di
tempat tidur terus-terusan selama 15 hari, membuat otot-otot di seluruh
tubuhku tak aktif. Dan pada saat digerakkan, otot-otot itu telah kaku.
Saat aku bangun dari koma, papa segera
menghubungi Mama. Mama datang ke rumah sakit. Dan entah mengapa, rasa sakit
di hati itu masih ada. Witri Suarti
< Muka
|