Home | Agenda | Iklan | Kontak kami | Polling | Redaksi | WI Lovers | Arsip Edisi 952 / 10 - 16 Maret / 2008
Berita Aktual
Bintang Anda
Kisah Sejati
Konsultasi
Ibu Anak
Menu Pintar
Sehat
 
 Keluarga
 
Oleh: Dewi Muchtar
 

Kelas Drum Cilik
Menambah Percaya Diri Anak

Tak ada salahnya mengajak anak belajar alat musik drum. Manfaatnya selain mengoptimalkan pertumbuhan anak juga menumbuhkan percaya diri.

 

Kevin, siswa kelas 1 SMP BPK Penabur, Jakarta Timur, sebelumnya punya kebiasaan memukul-mukul meja dan piring setiap berada di meja makan. Tak lama, ayahnya memasukkan ke Jakarta Drum School, untuk menyalurkan kebiasaanya itu. Masuknya Kevin ke kelas drum ternyata sangat bermanfaatn. Kevin justru menikmatinya.

“Pokoknya walaupun kedengarannya gedebak-gedebuk, tapi sebenarnya irama musik dari drum itu bikin kita rileks. Aku begitu ditawari les drum, langsung ketagihan,” ucap Kevin yang sebelumnya juga belajar keyboard namun tak begitu menyukainya.

“Main drum enak, bisa mengikuti iramanya. Terus setiap ketukan itu seolah mewakili emosi kita. Kalau lagi marah stiknya terdengar sangat keras,” kata Kevin, yang belajar drum sejak kelas 5 SD.
 

Bertahan 5 Menit

Belajar drum memang tak semua anak menyukainya. Namun bagi mereka yang suka, alat musik satu ini dirasa memiliki tantangan dan membuat percaya diri anak bertambah. Setiap ketukan yang dimainkan dengan menggunakan stik dan memukulnya ke drum dapat juga meluapkan emosi anak.

Jakarta Drum School (JDS)  adalah salah satu sekolah musik yang memiliki kelas drum untuk anak. Sekolah ini bukan sekedar melatih anak bisa bermain saja, namun memiliki kurikulum pendidikan yang jelas.

Harry Murti, salah satu pemilik Jakarta Drum School (JDS)  menuturkan sekolah musik yang didirikan sejak tiga tahu bersama Taufan Goenarso ini lebih memfokuskan diri pada pendidikan drum. 

Para pengajar adalah lulusan sekolah musik dari dalam dan luar negeri yang sudah menguasai permainan alat musik pukul ini.

JDS merupakan satu-satunya sekolah drum yang kurikulumnya jelas.

Goal-nya adalah membuat anak-anak bisa bermain drum dengan baik dan benar. Dasar dari segala alat musik adalah drum. Tidak ada grup band yang bagus kalau drummernya tidak bisa bermain bagus. Jadi karier bermusik sebuah band ditentukan oleh drummernya. Dia seperti konstruksi di dalam rumah,” papar Harry.

Untuk kelas anak, Harry menuturkan belajar drum lebih ke arah fun. Instruktur harus tahu psikologi anak.

“Karena anak fokusnya hanya bertahan 5 menit. Setelah itu sudah nggak bisa serius. Tapi disitulah tantangannya bagaimana melahirkan drummer masa depan yang berkualitas,”

Idealnya belajar drum, menurut Harry, jika merunut pada fisik orang Indonesia umur 5-6 sudah oke lah. Di bawah itu, agak sulit karena masih terkendala dengan tungkai kaki yang belum bisa menyentuh pedal drum.

Namun, bagi anak yang benar-benar memiliki bakat luar biasa, tak menutup kemungkinan JDS mau menerimanya.

“Usia 3 tahun kalau memang punya bakat luar biasa kita tetap terima kok. Makanya saya sengaja melengkapi kelas dengan drum set berukuran kecil,” timpalnya.

 

Menunjang Masa Depan

Belajar drum bukan sekedar belajar. Buktinya Kevin yang sudah dua tahun belajar, kini telah bersiap-siap untuk bisa tampil di event besar. Salah satunya Java Jazz

“Tahun lalu sebenarnya pernah juga tampil di sana, tapi saya pikir permainan saya belum maksimal. Saya ingin seperti Tyo (Tyo Nugros), habis permainannya seru banget sih,” cerita Kevin yang mengatakan bisa tidaknya bermain drum tergantung dari kemauan.

“Di rumah aku belajar sendiri, akhirnya bisa. Dua tahun belajar drum di Jakarta Drum School saya sudah tahu teknik main drum.  Apa itu namanya single struk, double struk dan bagaimana cara membacanya,” kata Kevin yang mengawali belajar drum dari level Kid C.

Agus, Ayah Kevin, sejak pertama melihat putranya suka memukul-mukulkan sendok ke meja makan tahu jika ada bakat bermain drum pada Kevin. Meski pada awal dialah yang memperkenalkan musik ke Kevin.

“Kevin sebelumnya sempat belajar keyboard, tapi kelihatan lebih antusias belajar drum. Ternyata pilihannya nggak salah, karena sekarang dia begitu menjiwai permainan alat musik drum,” papar Agus yang melihat anaknya makin percaya diri, bahkan ketika dipercaya tampil memeriahkan perhelatan Java Jazz, tahun 2007 lalu.

Sebagai orang tua, Agus tak masalah apabila suatu ketika, Kevin menjadikan hobi main drumnya sebagai pekerjaan. Justru, menurut bapak muda itu, dengan begitu Kevin akan berhasil di bidang yang akan digelutinya karena sebelumnya sudah mencintai drum lebih dulu.

Kevin akan mempunyai satu kebahagiaan dalam dirinya karena menekuni bidang yang benar-benar dicintainya.

“Itu yang saya rasa penting dalam kehidupan ini. Saya pikir setiap anak mesti punya satu keterampilan guna menunjang masa depannya.  Keberhasilan seseorang adalah ketika dia memang punya kesukaan di bidang yang digelutinya. Bahkan seharusnya saya sudah perkenalkan Kevin pada drum sejak usia 5-6 tahun. Tapi karena keterbatasan saya pada dunia musik, saya baru tawari dia masuk kelas drum saat sudah usia 10 tahun,” ujar Agus serius.

Sama seperti Kevin, kesukaan bermain drum dituturkan juga oleh Shinta Hoed, 13, tentang asyiknya bermain drum.

“Saat ini drummer cewek sedikit sekali. Makanya aku sangat interesting ambil kelas drum. Suaranya bagus, beda dengan alat musik yang lain. Saya bisa katakan itu karena sebelumnya saya juga pernah belajar gitar. Tapi ketika saya bandingkan dengan drum, ternyata drum jauh lebih unik,” ujar Shinta, yang merupakan adik dari musisi Anto Hoed.
 

Jika Anak Bandel

Mengajarkan anak belajar drum tentu saja tak semudah mengajar remaja atau orang dewasa. Ini dikarenakan perhatian anak saat berlatih masih belum terfokus dengan benar.

“Anak-anak itu kan suka bandel-bandel, nggak bisa diatur. Tapi saya sih fun aja, karena sadar bahwa karakter anak usia-usia segitu memang nggak bisa diajak terlalu serius,” cerita Aisyah, salah satu pengajar di Jakarta Drum School, dan khusus mengajar kelas Kid A. “Di kelas ini saya khusus mengajar anak mengenai aplikasi dan pengenalan drum set,” lanjutnya.

Dalam mengajar, Aisyah sangat terbuka dengan orang tua siswa. Jika memang si anak tak berbakat, lulusan IKJ ini tak segan-segan untuk mengungkapkan fakta yang sesungguhnya. Tapi yang membuatnya bersyukur, hampir 80 persen dari siswa didiknya rata-rata berbakat.

Aisyah selalu mengatakan pada para siswanya, jika memang serius belajar drum maka harus menumbuhkan kedisiplinan pada diri mereka terlebih dulu.

“Jangan banyak main. Terus harus suka dulu. Kalau sudah suka, pasti mereka bisa disiplin. Drum itu bukan sekedar alat musik pukul. Lebih dari itu drum juga ada nyanyiannya. Jadi kalau nggak ditekuni dengan disiplin yang tinggi, kapan bisanya bermain drum dengan baik dan benar” lanjut Aisyah.

             

Belajar Drum di Teknik Dasar

  1. Memegang Stik

Ada dua cara memegang stik, yakni tradisional grip dan modern grip.Pada tradisional grip, tangan kiri memegang stik dengan arah yang berlawanan dari tangan kanan. Sementara modern grip atau match grip,   tangan kiri dan kanan memegang stik dengan posisi sama. Untuk      mendapatkan pukulan yang ideal, memegang stik adalah dengan mencari   titik seimbangnya. Sehingga stik memantul dengan tepat. Jari-jari     tangan jangan sampai lepas dari stik karena akan sulit mengontrol pukulan.

  1. Memukul

Sebelum memukulkan stik ke drum sebenarnya, seorang anak harus latihan memukul dulu dengan menggunakan practice pad. Practice pad    adalah bangku kecil hitam yang terbuat dari karet. Pada tahapan ini diajarkan bagaimana memukul dengan tangan membentuk sudut 90 derajat pada saat posisi mengangkat. Jika sudah mahir memukul dengan    satu tangan, kemudian baru diajari memukul menggunakan tangan  secara bergantian. Kedua stik membentuk segi tiga sama kaki (sudut 45 derajat) pada practice pad.

  1. Ketukan

Saat memukul yang diperhatikan adalah jumlah ketukannya. Alat bantu yang digunakkan adalah metronom (alat pengatur kecepatan lagu), dengan tempo awal 80 bpm (beats per minute). Ketukan yang kita kenal   adalah ketukan ¼, 1/8 dan 1/6.

  1. Kombinasi Kaki dan Tangan

Kerja sama kaki dan tangan diperlukan disini.Terutama kaki kiri yang berfungsi sebagai pedoman yang dientakkan mengikuti ketukan ¼ terus- menerus. Sementara tangan kanan memukul stik dengan ketukan      berganti-ganti. Ketika mengangkat kaki tak perlu tinggi-tinggi. Yang perlu diperhatikan adalah setiap ketukannya tepat.
 

Manfaat Belajar Drum

  1. Anak cermat dalam menghitung
  2. Drum adalah jenis pukulan yang ada hitungannya.
  1. Anak akan lebih ways.
  2. Meski bukan orang yang tampil di depan umum. Tapi kehadirannya
  3. Menjadi penentu enak tidaknya sebuah lagu.
  1. Waktu bermain anak lebih terarah. Daripada menghabiskan waktu
  2. Main game di depan teve, lebih baik belajar drum.
  1. Mengajarkan anak untuk disiplin
  2. Kerja sama
  3. Musikalitasnya berkembang
  4. Menumbuhkan rasa percaya diri.

 

 

 

 

 

< Muka


WI Edisi 953

Beredar:
Kamis, 13 Maret 2008


 

 

cermin
keluarga
puanmetro
wisata
             

Tabloid Wanita Indonesia
Jl. Tebet Barat Raya No. 52 Jakarta Selatan 12810
Telp. 021-8308737 (hunting) Fax. 021-8293148
email:
redaksi@tabloid-wanita-indonesia.com