Keluarga
Oleh: Dewi Muchtar |
|
Kelas
Drum Cilik
Menambah
Percaya Diri Anak
Tak ada salahnya mengajak anak belajar alat musik drum.
Manfaatnya selain mengoptimalkan pertumbuhan anak juga menumbuhkan percaya
diri.

Kevin, siswa kelas 1 SMP BPK
Penabur, Jakarta Timur, sebelumnya punya kebiasaan memukul-mukul meja dan
piring setiap berada di meja makan. Tak lama, ayahnya memasukkan ke Jakarta
Drum School, untuk menyalurkan kebiasaanya itu. Masuknya Kevin ke kelas drum
ternyata sangat bermanfaatn. Kevin justru menikmatinya.
“Pokoknya walaupun
kedengarannya gedebak-gedebuk, tapi sebenarnya irama musik dari drum itu
bikin kita rileks. Aku begitu ditawari les drum, langsung ketagihan,” ucap
Kevin yang sebelumnya juga belajar keyboard namun tak begitu menyukainya.
“Main drum enak, bisa
mengikuti iramanya. Terus setiap ketukan itu seolah mewakili emosi kita.
Kalau lagi marah stiknya terdengar sangat keras,” kata Kevin, yang belajar
drum sejak kelas 5 SD.
Bertahan 5 Menit
Belajar drum memang tak
semua anak menyukainya. Namun bagi mereka yang suka, alat musik satu ini
dirasa memiliki tantangan dan membuat percaya diri anak bertambah. Setiap
ketukan yang dimainkan dengan menggunakan stik dan memukulnya ke drum dapat
juga meluapkan emosi anak.
Jakarta Drum School (JDS)
adalah salah satu sekolah musik yang memiliki kelas drum untuk anak. Sekolah
ini bukan sekedar melatih anak bisa bermain saja, namun memiliki kurikulum
pendidikan yang jelas.
Harry Murti, salah satu
pemilik Jakarta Drum School (JDS) menuturkan sekolah musik yang didirikan
sejak tiga tahu bersama Taufan Goenarso ini lebih memfokuskan diri pada
pendidikan drum.
Para pengajar adalah
lulusan sekolah musik dari dalam dan luar negeri yang sudah menguasai
permainan alat musik pukul ini.
JDS merupakan satu-satunya
sekolah drum yang kurikulumnya jelas.
“Goal-nya adalah membuat
anak-anak bisa bermain drum dengan baik dan benar. Dasar dari segala alat
musik adalah drum. Tidak ada grup band yang bagus kalau drummernya tidak
bisa bermain bagus. Jadi karier bermusik sebuah band ditentukan oleh
drummernya. Dia seperti konstruksi di dalam rumah,” papar Harry.
Untuk kelas anak, Harry
menuturkan belajar drum lebih ke arah fun. Instruktur harus tahu
psikologi anak.
“Karena anak fokusnya
hanya bertahan 5 menit. Setelah itu sudah nggak bisa serius. Tapi disitulah
tantangannya bagaimana melahirkan drummer masa depan yang
berkualitas,”
Idealnya belajar drum,
menurut Harry, jika merunut pada fisik orang Indonesia umur 5-6 sudah oke
lah. Di bawah itu, agak sulit karena masih terkendala dengan tungkai kaki
yang belum bisa menyentuh pedal drum.
Namun, bagi anak yang
benar-benar memiliki bakat luar biasa, tak menutup kemungkinan JDS mau
menerimanya.
“Usia 3 tahun kalau memang
punya bakat luar biasa kita tetap terima kok. Makanya saya sengaja
melengkapi kelas dengan drum set berukuran kecil,” timpalnya.
Menunjang Masa Depan
Belajar drum bukan sekedar
belajar. Buktinya Kevin yang sudah dua tahun belajar, kini telah
bersiap-siap untuk bisa tampil di event besar. Salah satunya Java Jazz
“Tahun lalu sebenarnya
pernah juga tampil di sana, tapi saya pikir permainan saya belum maksimal.
Saya ingin seperti Tyo (Tyo Nugros), habis permainannya seru banget sih,”
cerita Kevin yang mengatakan bisa tidaknya bermain drum tergantung dari
kemauan.
“Di rumah aku belajar
sendiri, akhirnya bisa. Dua tahun belajar drum di Jakarta Drum School saya
sudah tahu teknik main drum. Apa itu namanya single struk, double struk dan
bagaimana cara membacanya,” kata Kevin yang mengawali belajar drum dari
level Kid C.
Agus, Ayah Kevin, sejak
pertama melihat putranya suka memukul-mukulkan sendok ke meja makan tahu
jika ada bakat bermain drum pada Kevin. Meski pada awal dialah yang
memperkenalkan musik ke Kevin.
“Kevin sebelumnya sempat
belajar keyboard, tapi kelihatan lebih antusias belajar drum. Ternyata
pilihannya nggak salah, karena sekarang dia begitu menjiwai permainan alat
musik drum,” papar Agus yang melihat anaknya makin percaya diri, bahkan
ketika dipercaya tampil memeriahkan perhelatan Java Jazz, tahun 2007 lalu.
Sebagai orang tua, Agus
tak masalah apabila suatu ketika, Kevin menjadikan hobi main drumnya sebagai
pekerjaan. Justru, menurut bapak muda itu, dengan begitu Kevin akan berhasil
di bidang yang akan digelutinya karena sebelumnya sudah mencintai drum lebih
dulu.
Kevin
akan mempunyai satu kebahagiaan dalam dirinya karena menekuni bidang yang
benar-benar dicintainya.
“Itu
yang saya rasa penting dalam kehidupan ini. Saya pikir setiap anak mesti
punya satu keterampilan guna menunjang masa depannya. Keberhasilan
seseorang adalah ketika dia memang punya kesukaan di bidang yang
digelutinya. Bahkan seharusnya saya sudah perkenalkan Kevin pada drum sejak
usia 5-6 tahun. Tapi karena keterbatasan saya pada dunia musik, saya baru
tawari dia masuk kelas drum saat sudah usia 10 tahun,” ujar Agus serius.
Sama
seperti Kevin, kesukaan bermain drum dituturkan juga oleh Shinta Hoed, 13,
tentang asyiknya bermain drum.
“Saat
ini drummer cewek sedikit sekali. Makanya aku sangat interesting
ambil kelas drum. Suaranya bagus, beda dengan alat musik yang lain. Saya
bisa katakan itu karena sebelumnya saya juga pernah belajar gitar. Tapi
ketika saya bandingkan dengan drum, ternyata drum jauh lebih unik,” ujar
Shinta, yang merupakan adik dari musisi Anto Hoed.
Jika Anak
Bandel
Mengajarkan anak belajar drum tentu saja tak semudah mengajar remaja atau
orang dewasa. Ini dikarenakan perhatian anak saat berlatih masih belum
terfokus dengan benar.
“Anak-anak itu kan suka bandel-bandel, nggak bisa diatur. Tapi saya sih
fun aja, karena sadar bahwa karakter anak usia-usia segitu memang nggak
bisa diajak terlalu serius,” cerita Aisyah, salah satu pengajar di Jakarta
Drum School, dan khusus mengajar kelas Kid A. “Di kelas ini saya
khusus mengajar anak mengenai aplikasi dan pengenalan drum set,” lanjutnya.
Dalam
mengajar, Aisyah sangat terbuka dengan orang tua siswa. Jika memang si anak
tak berbakat, lulusan IKJ ini tak segan-segan untuk mengungkapkan fakta yang
sesungguhnya. Tapi yang membuatnya bersyukur, hampir 80 persen dari siswa
didiknya rata-rata berbakat.
Aisyah selalu mengatakan pada para siswanya, jika memang serius belajar drum
maka harus menumbuhkan kedisiplinan pada diri mereka terlebih dulu.
“Jangan banyak main. Terus harus suka dulu. Kalau sudah suka, pasti mereka
bisa disiplin. Drum itu bukan sekedar alat musik pukul. Lebih dari itu drum
juga ada nyanyiannya. Jadi kalau nggak ditekuni dengan disiplin yang tinggi,
kapan bisanya bermain drum dengan baik dan benar” lanjut Aisyah.
Belajar Drum
di Teknik Dasar
-
Memegang
Stik
Ada dua cara memegang stik,
yakni tradisional grip dan modern grip.Pada tradisional grip, tangan
kiri memegang stik dengan arah yang berlawanan dari tangan kanan.
Sementara modern grip atau match grip, tangan kiri dan kanan memegang stik
dengan posisi sama. Untuk mendapatkan pukulan yang ideal, memegang stik
adalah dengan mencari titik seimbangnya. Sehingga stik memantul dengan
tepat. Jari-jari tangan jangan sampai lepas dari stik karena akan sulit
mengontrol pukulan.
-
Memukul
Sebelum memukulkan stik ke drum
sebenarnya, seorang anak harus latihan memukul dulu dengan menggunakan
practice pad. Practice pad adalah bangku kecil hitam yang terbuat dari
karet. Pada tahapan ini diajarkan bagaimana memukul dengan tangan
membentuk sudut 90 derajat pada saat posisi mengangkat. Jika sudah mahir
memukul dengan satu tangan, kemudian baru diajari memukul menggunakan
tangan secara bergantian. Kedua stik membentuk segi tiga sama kaki
(sudut 45 derajat) pada practice pad.
-
Ketukan
Saat memukul yang diperhatikan
adalah jumlah ketukannya. Alat bantu yang digunakkan adalah metronom
(alat pengatur kecepatan lagu), dengan tempo awal 80 bpm (beats per minute).
Ketukan yang kita kenal adalah ketukan ¼, 1/8 dan 1/6.
-
Kombinasi
Kaki dan Tangan
Kerja sama kaki dan tangan
diperlukan disini.Terutama kaki kiri yang berfungsi sebagai pedoman
yang dientakkan mengikuti ketukan ¼ terus- menerus. Sementara tangan
kanan memukul stik dengan ketukan berganti-ganti. Ketika mengangkat
kaki tak perlu tinggi-tinggi. Yang perlu diperhatikan adalah setiap
ketukannya tepat.
Manfaat
Belajar Drum
- Anak
cermat dalam menghitung
- Drum
adalah jenis pukulan yang ada hitungannya.
- Anak akan
lebih ways.
- Meski
bukan orang yang tampil di depan umum. Tapi kehadirannya
- Menjadi
penentu enak tidaknya sebuah lagu.
- Waktu
bermain anak lebih terarah. Daripada menghabiskan waktu
- Main game
di depan teve, lebih baik belajar drum.
-
Mengajarkan anak untuk disiplin
- Kerja sama
-
Musikalitasnya berkembang
-
Menumbuhkan rasa percaya diri.
|
< Muka
|