Home | Agenda | Iklan | Kontak Kami | Polling | Redaksi | WI Lovers | Arsip Edisi 952 / 10 - 16 Maret / 2008
Berita Aktual
Bintang Anda
Kisah Sejati
Konsultasi
Ibu Anak
Menu Pintar
Sehat

Chemistry di Balik Ayat-Ayat Cinta

Memerankan karakter utama dalam film yang diangkat dari novel terlaris, Ayat-Ayat Cinta, merupakan pengalaman luar biasa buat Rianti Cartwright, Fedi Nuril, dan Carrisa Putri.


Rianti Carwright, Fedi Nuril dan Carissa Putri

Ketika disodori skrip film Ayat-Ayat Cinta (AAC), Rianti sedang sibuk, “Begitu kubaca judulnya Ayat-ayat Cinta, apaan nih, feelingku kok kayak dangdut. Tapi begitu aku baca, wow! Benar-benar, gila, amazing, aku suka banget, aku pengin ikutan. Mau jadi apapun, siapapun, peran sekecil apapun, aku mau ikut. Nggak pikir-pikir lagi, harus kuambil nih,” cerita Rianti, antusias.

 

Mengubah Cara Pandang

Rianti membaca novel Ayat-ayat Cinta justru setelah selesai syuting film tersebut.

“Memang aku nggak tahu, tapi pernah dengar ada novel fenomenal. Ketika aku baca skripnya, aku menyukai, pengin partisipasi dalam filmnya. Oleh Mas Hanung (sutradara-red) nggak terlalu didorong membaca novel, karena dia punya interpretasi sendiri, ada sedikit perbedaan. Kutunggu selesai bikin film, baru kubaca novelnya, memang beda, dua karya artistik yang berbeda,” tutur Rianti.

Setelah membaca novelnya, “Bagus banget. Benar-benar sebuah karya tulis yang membuat kita terpana, mungkin melihat Islam dengan perspektif lebih baik. Selama ini agama kita sering diafiliasikan hal negatif teroris atau apa, aturan ketat, sedangkan novel ini memberikan gambaran Islam itu teduh, penuh cinta, penuh perasaan, sangat menghargai wanita juga, benar-benar sebuah karya luar biasa.”

Memerankan tokoh Aisha merupakan tantangan tersendiri buatnya.

“Aku harus memakai cadar. Sedangkan aku sama sekali nggak biasa pakai cadar. Rasanya sesak napas, susah makan. Aku harus belajar bagaimana gaya jalan, harus berubah semua, tingkatan iman sangat tinggi, cadar kan naik kelas dari jilbab. Aku juga harus mendalami Islam dalam konteks filmnya, bukan aku tiba-tiba jadi berubah.”

Bermain dalam AAC sedikit mengubah cara pandang Rianti terhadap perempuan berjilbab atau bercadar.

“Kupikir wanita berjilbab dan mengenakan cadar adalah wanita yang terdholimi, wanita yang tertekan. Ternyata Aisha wanita modern yang memilih gaya hidup seperti itu. Emansipasi, yang penting perempuan ada pilihan. Biarpun dibesarkan dalam agama manapun asal ada akses pendidikan, memilih ‘oh aku seperti ini’. Aisha Indo-Jerman, tumbuh di lingkungan Jerman, ia memilih menjadi muslimah, memakai cadar, tapi itu sebuah kemandirian dia, keputusan dia sendiri. Ternyata nggak semuanya tuntutan lingkungan. Banyak berdasarkan kemauan pribadi,”cerita Rianti antusias.

Kurang lebih setahun menyelesaikan film ini, Rianti makin merasakan getaran-getaran menyentuh kalbunya.

“Tentang Islam, yang tadinya aku kurang mengerti apa itu taaruf, cara bicara Islam seperti apa, arti sabar dan ikhlas belum terlalu paham, sekarang jadi lebih mengerti,” kata Rianti.

Jatuh dari unta, adalah salah satu pengalaman Rianti yang tetap dikenangnya hingga kini.

“Aku diminta Mas Hanung untuk naik unta, adegan sedang bulan madu, naik menyamping. Unta, dua kali lebih tinggi daripada kuda, dan aku nggak mungkin naik menyamping, pasti merosot. Mas Hanung, ‘Oh, kamu pasti bisa.’ Terlalu percaya diri, ha ha ha…, ya sudah, aku pakai cadar, dengan pakaian berlipat-lipat, aku yakin jatuh, beneran jatuh. Aku nangis, habis tinggi banget. Sakitnya nggak seberapa, malunya itu lho, haha…..” kenang Rianti.

Karena berbagai kendala, syuting yang awalnya akan dilakukan di Mesir tidak dapat dilaksanakan. Sebagai gantinya, syuting dilakukan di India.

“Nggak dapat Mesir, ya sudahlah, kami terima keadaan. Karena aku belum pernah ke India, buat aku luar biasa pengalaman itu, syuting di danau, lalu di samping danau ada Istana Maharaja, indah banget,” ucap Rianti.

Meski sedikit kecewatak bisa syuting di Mesir, toh  Rianti mengaku banyak mengambil pelajaran. “Karena perjuangan membuat film ini benar-benar kayak sampai titik darah penghabisan,” katanya.
 

Cobaan Demi Cobaan

Sama hal-nya dengan Rianti, Fedi merasa bahagia jika AAC diterima dengan baik oleh masyarakat.

“Alhamdulillah, kerja keras kita semua terbayar. Aku bersyukur, Ayat- Ayat Cinta disukai masyarakat, dan booming,” ungkap Fedi Nuril, singkat.

Fedi berperan sebagai Fahri bin Abdullah, seorang pria asal Jombang, Jawa Timur, mahasiswa S2 yang kuliah di Universitas Al- Azhar, Kairo, jurusan tafsir Al- Quran.

“Dia orang yang sangat ramah, lembut, suka menolong dan selalu berusaha mengikuti ajaran Al- Quran dan Hadist dalam kehidupan sehari- hari. Kelemahan terbesarnya saat berinteraksi dengan perempuan. Dia sangat kaku pada perempuan,” cerita Fedi.

Kelemahannya ini mendapat cobaan dari Allah. Fahri dicintai oleh 4 orang perempuan (1 perempuan Indonesia, 2 perempuan Mesir, dan 1 perempuan keturunan Turki Jerman).

“Film ini lebih kepada konflik yang dialami Fahri saat mendapat cobaan yang datang berturut- turut. Saking terobsesi dengan Fahri, salah satu perempuan tersebut ada yang koma. Ada juga yang memfitnah, dengan mengatakan Fahri memperkosa dirinya karena cintanya ditolak,” lanjut Fedi, serius.

 “Saat baca novel dan skenarionya, aku ragu bisa memerankan Fahri atau tidak. Fahri orang yang sangat religius dan mempunyai tingkat keimanan yang sangat tinggi. Sedangkan keimananku sangat rendah. Sempat frustasi dan stress, bahkan ingin mengundurkan diri. Setelah ngobrol dengan mas Hanung dan kang Abik, akhirnya aku memutuskan untuk terus. Karena, inilah titik dimana aku bisa dekat dengan agama Islam, dan belajar banyak. Ini adalah hidayah agar aku bisa dekat dengan Allah. Aku melakukannya untuk diri sendiri, supaya mempunyai bekal untuk menjadi manusia muslim yang lebih baik,” ungkapnya, bahagia.

Fedi mengaku puas dengan usahanya berperan sebagai Fahri.

“Tapi, secara akting aku belum puas. Saat memerankan pria yang religius, berarti tingkat keimanan kita harus tinggi. Keimanan adalah suatu hal yang abstrak, tidak bisa dilihat atau dipelajari, sangat personal antara manusia dengan Tuhan. Untuk mendalami keimanan, bukan hanya butuh waktu yang lama, tapi juga keikhlasan untuk menjalaninya,” jelas Fedi, tersenyum.

Pengalaman menarik saat ia belajar bahasa Arab dalam waktu singkat, yakni 6 bulan.

“Bahasa Arab mempunyai tantangan sendiri, dan membutuhkan perjuangan yang berat. Walaupun dialognya sedikit, tapi harus kelihatan perfect. Salah sedikit membaca mahraj, artinya akan lain. Selain itu, kita harus mempertanggung jawabkan pada Allah,” jelas Fedi, bangga.

Yang berkesan bagi Fedi adalah karena film ini sangat religius.

“Di saat kita yakin akan kereligiusan itu, seperti diberi kekuatan untuk menjalaninya. Syuting ini hanya 35 hari, tapi banyak sekali masalah dan cobaan yang harus dihadapi. Faktor x yang diluar kemampuan manusia. Tiba- tiba, semua kamera rusak. Padahal yang menggunakannya orang yang sudah profesional. Akhirnya, harus menunggu kamera baru dan jadwal tertunda. Aku, mas Hanung, dan beberapa tim mau syuting di Kairo, tapi tidak bisa berangkat karena tidak membawa visa. Padahal, kita sudah menjelaskan pada Singapore Airlines bahwa kita mendapat Visa on Arrival dari KBRI Kairo. Mas Hanung menunjukkan surat undangan dari PCIM (Pimpinan Cabang Islam Muhamadiyah) Kairo untuk workshop atas nama Muhamadiyah. Mereka tidak percaya, dan minta bukti yang lain. Karena itu Sabtu, kantor KBRI di Kairo tutup. Kami tidak bisa memfaks semua dokumen yang diperlukan untuk bisa pergi ke Kairo. Padahal, kita sudah di depan counter check in dan sudah mempersiapkan semuanya,” keluh Fedi, tersenyum kecut.

“Tapi, aku senang karena film ini bisa selesai. Membuat film Islam indah sekali. Walaupun banyak cobaan, tetap merasa dilindungi dan selalu diberi kekuatan untuk selalu sabar, sabar, dan sabar,” sambungnya, tersenyum.

Setelah berperan sebagai Fahri, banyak perubahan dalam diri Fedi.

“Banyak yang aku pelajari, yang membuatku tahu mana yang benar mana yang salah dalam konteks sebenarnya. Tidak hanya berdasarkan omongan seseorang, tapi mengetahui langsung dari sumbernya yakni Al- Quran dan Hadist. Ternyata, untuk menjalani hidup itu ada kuncinya. Kita harus benar- benar sabar dan ikhlas. Walaupun hidup kita lurus- lurus saja, cobaan akan tetap datang. Insya Allah, kita akan selalu diberi perlindungan oleh- Nya,” jelas Fedi, bijak.

“Dulu, aku orang yang tidak sabar, cenderung lebih blak- blakan. Apa yang aku rasakan, langsung dikeluarkan. Lebih banyak menyangkal saat mendapat cobaan. Yang aku pelajari adalah ketika Allah memberikan masalah, itu menunjukkan Dia sayang pada umat- Nya, dan ingin mereka belajar dari masalah tersebut,” paparnya, riang.
 

Bertukar Peran dengan Rianti

Carrisa Putri , wanita yang berperan sebagai Maria ini awalnya justru mendapatkan peran sebagai Aisha. Namun belakangan sutradara menukar peran. Tokoh Aisha diberikan pada Rianti.  

Saat itu keduanya sudah menjalani reading guna mendalami peran masing-masing.

“Tapi karena alasan tertentu sutradara dan penulis skenario memutuskan untuk menukar peran yang sudah kami dalami itu. Padahal saya sudah sempat lho belajar memakai cadar. Saya pikir pasti ada tujuannya kenapa ditukar. Saya percaya semuanya ada hikmah. Nyatanya walaupun kesannya harus kerja dua kali, saya nggak mengalami kesulitan yang berarti ketika memerankan tokoh Maria. Akhirnya saya dan Rianti saling bertanya tentang tokoh yang sebelumnya sudah melekat pada diri masing-masing,” kata gadis yang akrab disapa Rissa ini.

Sebelum syuting,Rissa sempat membaca novel AAC.

“Kalau boleh saya mengatakan ini merupakan resume dari pembelajaran untuk mengenal agama Islam. Poligami yang diajarkan Islam, adalah poligami yang semata-mata terjadi bukan karena laki-laki itu tertarik pada wanita karena nafsu. Melainkan oleh sebab lain. Seperti halnya Fachri  menikahi Maria karena untuk menolong wanita itu dari depresi. Begitu pula Maria menikah dengan Fachri untuk menolongnya agar tidak terperosok ke dalam penjara akibat fitnah yang disandangkan kepadanya,” ucap Carissa yang mengawali dunia akting lewat sejumlah sinetron. Antara lain Siti Nurbaya, dan Hikmah 3.

Memerankan tokoh Maria justru menjadi tantangan tersendiri baginya.

“Maria beragama kristen koptik tapi mengerti agama Islam. Dia sangat hafal surat Maryam. Sampai sekarang saya masih hafal lho surat Maryam. Jadi hitung-hitung belajar Al qur’an juga,” ucapnya Rissa yang menegaskan sosok Maria berbeda sekali dengan keseharian dirinya. Maria dikatakan Rissa, sosok wanita yang tidak bisa mencurahkan isi hari. Semuanya dipendam, makanya mengalami depresi ketika cintanya tak sampai pada Fachri. 

Rissa mengatakan memang antara novel dan film AAY sangat berbeda.

“Antara novel dan filmnya sendiri memang 2 hal yang berbeda. Karena imajinasinya yang tinggi dalam novel tidak seluruhnya dapat dituangkan dalam bahasa visual. Tapi saya berharap mudah-mudahan perbedaan ini  bisa menutupi kekurangan masing-masing,” tutur Rissa lagi.  

Persahabatan Usai Syuting

Proses syuting AAC cukup lama. Mulai kasting Februari 2007 hingga selesai syuting Januari 2008.

“Setahun, saya belajar banyak. Sama kru dan pemain lain, sudah kayak keluarga, sering tinggal satu rumah kalau lagi syuting. Sebetulnya syuting cuma 30 hari, ketemu bulan puasa, sampai sering ke luar negeri,” cerita Rianti.

Pergi ke India untuk syuting merupakan pengalaman luar biasa penuh tantangan buat Rianti, Fedi dan Rissa.

“Naik bus, perjalanan dari Bombay ke Jodhpur seperti dari Jakarta ke Makasar. Mau naik pesawat nggak dapat tiket. Naik bus yang harusnya 24 jam ditempuh 33 jam, dua hari nggak mandi, busnya zaman dulu banget, nggak mengerti sama sekali bahasanya. Mereka nggak mengerti bahasa Inggris, mencekam, nggak ada munusia, diam menusuk. Kupikir India panas, memang iklim gurun siang panas, tapi malamnya dingin. Sampai perbatasan India-Pakistan dimarahi polisi, di rombongan kami ada 4 perempuan, takut. Soalnya di negeri orang. Tapi jadi belajar banyak,”

Pengalaman syuting di negeri orang dan berbagai peristiwa yang terjadi justru mendekatkan tiga pemain utama ini, juga kru produksi lainnya. Rianti dan Fedi y justru sudah pernah main bareng dalam film Inikah Rasanya Cinta. Jadi sudah cukup saling kenal.

“Aku sudah lumayan mengenal Fedi, jadi soal chemistry nggak usah dibangun. Seru-seruan aja, nggak canggung. Sama Carrisa justru harusnya kami tidak boleh terlalu dekat untuk pendalaman karakter, karena kami mencintai laki-laki yang sama. Tapi justru karena aku dan Carrisa nyambung banget, sekamar di India, mau nggak mau jadi dekat banget, malah jadi istri yang sangat akur, bingung kan? Hahaha….”

Keasyikan bertiga, malah waktu kru AAC pulang ke tanah air, ketiganya memisahkan diri, menginap semalam di India, belanja-belanja dan mengunjungi berbagai tempat menarik.”

“Saya beli baju muslim buat mama-papa,” cerita Rianti, senang.

 “Kebetulan sama-sama lagi break, kami pergi berlibur ke sana,” Rissa menambahi. “Kalau lagi di Jakarta pun kita sering telpon-telponan, ngopi bareng. Mungkin chemisty selama syuting AAC berkelanjutan. Kita jadi saling kenal satu sama lain. Syutingnya kan lumayan lama. Di Semarang aja sempat satu  bulan, belum lagi lanjut ke India,” ujar Rissa yang mengaku banyak belajar pada Fedi dan Rianti yang sudah berpengalaman main film sebelumnya. Dewi, Diah, Affi

 

Hanung Bramantyo
'Kairo' di India

Ayat-Ayat Cinta adalah produksi yang penuh dengan cobaan dibandingkan 6 filmku sebelumnya,” tulis Hanung Bramantyo dalam blog  nya: hanungbramantyo@multiply.com.

Dalam blog tersebut, Hanung secara detil menceritakan suka-duka menggarap film AAC.
 

Berkali Mengucap Syukur

Film ini tidak hanya mampu mengubah pandanganku tentang Film. Film ini mampu dan sudah mengubah pandangan hidupku: tentang agama, kesetiaan, kerja keras, komitmen, dan ... cinta. Berkali-kali aku berucap syukur yang besar kepada Tuhanku yang sudah memberikan aku jalan menuju kedewasaan.

Berkali-kali aku berucap terima kasih kepada Kang Abik yang sudah secara tak langsung mempercayaiku menyutradarai film ini, dimana telah membuatku kembali merasa dekat dengan Islam yang indah, bersahaja dan penuh dengan toleransi. Dan terakhir, berkali-kali aku berucap syukur kepada Ibuku yang telah berpesan untuk membuat film tentang agama. Sekarang aku mengerti, kenapa Kau berpesan begitu Ibu. Tidak lain hanyalah untuk membuatku selalu dekat dengan Islam.

Kairo adalah kota dimana manusia-manusia Fahri, Aisha, Maria, Noura, Nurul, dan segudang manusia-manusia ciptaan Kang Abik bertebaran, hidup, saling bicara dan saling mencinta.

Di kota itu, Hanung akan meletakkan kamera, melukis dengan cahaya, membangun set dan meletakkan pemain-pemain didalamnya. Pemain Indonesia yang bergaya selayaknya orang kairo asli.

Mendadak semua berhenti begitu saja. Impian itu kandas. Produser membatalkan syuting di Kairo dengan alasan budget produksi yang ditawarkan Egypt Production tidak masuk akal.

Kemudian muncul gagasan syuting di India dari salah seorang staf perusahaan MD yang orang India. Dia berjanji bisa menyediakan lokasi yang kita butuhkan mirip Kairo. Semula aku ragu, tapi setelah ditunjukkan foto-foto lokasi di India, aku yakin. Dalam foto itu tergambat Sungai Nil, sudut kota Kairo, Taman Al azhar University, Padang Pasir lengkap dengan unta-unta dan kafilah. Hanya pyramid saja yang tidak ada. Tapi itu bisa dibuat di studio menggunakan Computer Graphics Imagery (CGI) yang lebih dikenal dengan special effect.”

Untuk saat ini, sebuah kemewahan bisa membayangkan film ini sesuai dengan harapan Kang Abik dan pembaca fanatik AAC. Yang bisa aku lakukan hanyalah menyelesaikan film ini semaksimal yang aku bisa.

Semata-mata hanya idealismeku saja yang berharap film Indonesia tidak hanya diisi oleh Horor dan percintaan remaja Kota. Tapi apa itu idealisme? Apakah Kang Abik dan jutaan pembaca AAC mengerti soal idealisme ini? Apa yang mereka bisa berikan buat mengganti segudang persoalan kami disini? Mereka tidak lebih dari sekedar penonton yang menuntut hiburan atau membanding-bandingkan film dengan novelnya. Lantas jika tidak sama dengan novelnya terus mencaci maki, menganggap bodoh dan kafir sutradara yang membuat. Karena hal-hal Islami dalam Novel tidak tampak, tidak terasa. Lagi-lagi dadaku sesak. Tapi aku tidak bisa lari. Aku sudah berjanji kepada diriku, anakku dan ibuku untuk memberikan yang terbaik.
    'Kalau kamu sudah bisa membuat film. Buatlah film tentang agamamu.' Kata ibuku yang terus menerus terngiang. Affi

 

 

Habiburrahman El Shirazy
Menulis Sampai Menangis

Kandungan ayat-ayat Alquran mengilhami Kang Abik – panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy, untuk menulis cerita dengan kata-kata yang indah.

Ketika menadaburi Surat Zukruf ayat 64 dan Surat Yusuf yang berisi kisah cinta yang universal, ia terinspirasi untuk menulis dan jadilah novel Ayat-Ayat Cinta.
 

Royalti Rp 1 Milyar

Dalam waktu tiga tahun novel Ayat-Ayat Cinta sudah menembus oplah sekitar 300 ribu eksemplar. Selain Ayat-Ayat Cinta, El Shirazy telah menulis belasan judul buku dan hampir semua buku yang ditulisnya best seller. Antara lain Ketika Cinta Berbuah Surga, Di Atas Sajadah Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Dalam Mihrab Cinta, Nyanyian Cinta, Ketika Derita Mengabadikan Cinta, dan Pudarnya Pesona Cleopatra.

Untuk novel Ayat-Ayat Cinta, El Shirazy mendapat royalti Rp 1,5 Miliar. Sedangkan untuk buku-bukunya yang lain tidak kurang dari Rp 100 juta yang dia kantongi per judul.

Sejak baris pertama membaca novel Ayat-Ayat Cinta, pembaca akan terjerat pada kehalusan penulis dalam memotret suasana alam Mesir.

Fahri sebagai tokoh utama dikenalkan kepada pembaca melalui rangkaian kegiatan sehari-hari santri metropolis. Penulis berhasil menghidupkan tokoh Fahri, bahkan kita seolah-olah menjadi Fahri dalam novel ini. El Shirazy berhasil melukiskan suasana kehidupan Mesir yang menjadi latar belakang cerita dengan begitu mengesankan, karena ia mengalami sendiri hari-hari di negeri beribu kota Kairo ini. Kita seakan merasakan langsung suasana Mesir dalam panas 41 derajat Celsius. Gambaran budaya masyarakatnya. Dan humor-humor segar yang digunakan.

Tanpa disadari, ilmu fikih dan akidah kita bertambah setelah kita mengikuti dialog-dialog yang disampaikan dalam novel ini. Sehingga novel ini disebut juga novel pembangun jiwa.

Novel ini pun mengandung kisah asmara yang romantis dan humanis. Hati kita akan gerimis usai membacanya. Kehidupan Fahri diwarnai dengan kisah hubungan lelaki dan perempuan. Perasaan Fahri diungkapkan dengan baik ketika ia harus menjadi rebutan tiga orang perempuan. Adegan percintaan pun dikemas dengan sangat manis dan cantik serta menggemaskan namun tidak terjatuh dalam kevulgaran.

Di balik penulisan novel ini, alumnus Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir, sebuah universitas Islam terkemuka di dunia, ini mengungkapkan ketika menulisnya saja ia sampai menangis menghayati tokoh yang ada dalam cerita itu. Memang, pada awalnya ia menulis buku ini untuk mengobati kerinduannya pada Kota Kairo, dan ini juga ditulis setelah ia tertimpa musibah kecelakaan, jadi lebih untuk memotivasi bahwa masih bisa berkarya setelah kejadian itu.  Affi

 

           


WI Edisi 953

Beredar:
Kamis, 13 Maret 2008


 

 

cermin
keluarga
puanmetro
wisata

Tabloid Wanita Indonesia
Jl. Tebet Barat Raya No. 52 Jakarta Selatan 12810
Telp. 021-8308737 (hunting) Fax. 021-8293148
email:
redaksi@tabloid-wanita-indonesia.com