![]() |
| Home | Agenda | Iklan | Kontak Kami | Polling | Redaksi | WI Lovers | Arsip | Edisi 933/ 29 Okt - 4 Nov / 2007 |
|
Sembelit Pada Anak
Sembelit pada anak kerap terjadi. Jangan sepekan karena bisa berakibat fatal. “Mama…..! Perutku sakit. Susah buang air besar nih Ma. Rasanya sakiiiiit sekali,” teriak Wida 3 th pada Septi, sang mama.
Septi pun
langsung membawa ke dokter. Bukan sekali ini Wida berteriak kesakitan tak
bisa buang air besar. Ia khawatir ada sesuatu yang tak beres pada
pencernaan putrinya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, diketahui Wida
mengalami konstipasi (sembelit). Pola Makan Tak Sehat Susah buang air besar atau sembelit, bukan hanya dialami orang dewasa. Bayi atau anak-anak pun bisa mengalami sembelit. Jika hal ini terjadi pada bayi Anda, maka jangan cepat panik. Gangguan konstipasi ini harus segera diatasi dengan tenang, buka panik. Biasanya penyebab dari konstipasi pada anak adalah pola makan tidak sehat yang lebih banyak mengandung lemak dan gula serta tidak mengonsumsi serat secara cukup. Selain itu, kurangnya asupan cairan ke dalam tubuh, sering kali menjadi penyebab konstipasi. Kurangnya aktivitas
olahraga juga bisa mengakibatkan konstipasi. Ketika seseorang bergerak,
makanan yang ada di dalam perut juga akan bergerak pada saluran pencernaan.
Jadi, jika seseorang tidak cukup bergerak, kemungkinan dapat mengalami
konstipasi. Bayi Minum Susu Formula Lebih Rentan Sembeli pada bayi sering kali membuat orangtua khawatir. Namun pada anak usia di atas dua tahun, sembelit cenderung dianggap ringan. Padahal apapun bentuknya, sembelit harus tetap diwasapadi. Frekuensi buang air besar pada bayi cukup bervariasi, bisa 4-10 kali per hari atau hanya 1 kali tiap 3-4 hari. Sesudah bulan pertama biasanya frekuensinya kurang dari 3-4 kali per hari bahkan ada yang 1 kali dalam 1 minggu. Tinja pada bayi dengan ASI eksklusif konsistensinya biasanya lembek, berair, warna kuning tua dan berbiji-biji. Bayi yang memperoleh ASI eksklusif biasanya jarang menderita sembelit. Hal tersebut karena ASI mengandung nutrisi dalam bentuk yang mudah dicerna dan diserap tubuh. Pada bayi yang diberi susu formula, sembelit yang terjadi mungkin saja karena jenis susu botol yang diminumnya. Susu yang mengandung zat besi terlalu tinggi, bisa membuat si kecil mengalami sembelit (konstipasi). Maka, coba perhatikan susu si kecil. Bila memang kandungan zat besinya terlalu tinggi, mungkin bisa menggantinya dengan susu yang lain. Tapi alangkah baiknya, sebelum mengganti susu, Anda berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter anak. Bila bayi dalam dua atau tiga hari tidak membuang kotorannya dan terus menangis, kita sering kali merasa kesulitan untuk menentukan adanya keterlambatan proses buang air besar pada anak karena anak belum bisa mengeluhkan apa yang dideritanya. Anak di bawah usia dua tahun biasanya belum menyadari bahwa mereka mempunyai suatu kontrol dalam proses buang air besar. Terlebih pada anak-anak yang mempunyai perkembangan tubuh terlambat atau mempunyai cacat jasmani akan menghalangi proses pengontrolan ini. Akibatnya, anak akan mengalami keterlambatan dalam menguasai kepandaian membuang kotorannya. Jika kesehatan anak
terganggu, terutama lambatnya pertumbuhan berat badan dan tingginya, orang
tua harus mulai curiga adanya kelainan ini. Apalagi kalau anak sudah sering
mengalami sembelit sejak bayi, adanya penyakit organik tertentu yang
mendasari kelainan ini harus segera dicurigai. Fese Menumpuk di Usus Banyak faktor yang menjadi penyebab terjadinya sembelit, di antaranya adalah adanya penyakit organ tubuh yang diderita anak. Pada umumnya faktor ini sudah dapat terlihat pada bayi di usia bayi satu bulan. Sembelit juga kerap dialami oleh anak yang mulai belajar jalan. Berbeda dengan bayi, anak usia ini tak lagi hanya minum susu, tapi juga mengonsumsi makanan padat. Untuk memastikan tak ada sesuatu yang serius pada si kecil, maka sebaiknya Anda membawanya ke dokter anak. Bila dokter menyatakan tak ada gangguan serius, maka hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mencoba mengganti asupan makanan buat si buah hati. Sembelit pada anak di usia ini akan ditandai dengan mengerasnya feses. Biasanya, si kecil akan rewel karena perutnya terasa sakit. Selain itu, anak pun akan merasa sakit saat buang air besar. Darah terang di tinja dapat menyertai hal ini, yang menandakan luka di sekitar anus yang sedikit berdarah. Bila sudah begitu, tak sedikit anak yang menjadi takut untuk buang air besar. Padahal, menahan-nahan buang air besar juga tidak baik. Sebab, feses bisa terus menumpuk di dalam usus. Faktor penyebab lainnya
adalah timbulnya sumbatan pada usus besar bagian bawah. Misalnya terkena
penyakit kelumpuhan pada sebagian usus besar (hirchprung) yang merupakan
penyakit penting bagi anak. Penyakit ini ditandai dengan tidak adanya
serabut saraf di bagian tertentu usus besar sehingga bagian ini tidak dapat
berkontraksi dengan semestinya. Luka pada Dubur Sembelit dapat juga terjadi karena kekurangan cairan dan berat badan yang kronis dalam tubuh dan yang bukan diakibatkan diare. Penyakit-penyakit lain seperti kelebihan zat kapur dalam tubuh yang tidak diketahui penyebabnya, atau kelainan yang disertai pengeluaran air seni yang terus-menerus dan berlebihan, dapat juga mengakibatkan sembelit pada anak. Faktor lainnya yang menyebabkan anak kesulitan buang air besar adalah terjadinya luka pada dubur sehingga menimbulkan gangguan pada fungsi cincin otot yang bertugas melepaskan kotoran di bagian dubur. Juga terjadinya kelumpuhan akibat penyakit saraf berat, kanker, atau kegemukan. Bahkan, sembelit pada anak bisa terjadi sebagai satu-satunya gejala penyakit kelenjar gondok atau hipotiroidisme. Faktor makanan dapat juga menyebabkan sembelit pada anak. Misalnya pola makanan yang kurang mengandung serat, susu kaleng yang tidak cocok, ataupun kekurangan makan dalam jangka waktu yang cukup lama. Anak-anak yang lebih
besar dan memiliki sembelit kronis jarang disertai dengan suatu penyakit
organ tubuh. Faktor psikologis adalah sebagai faktor penunjang yang penting.
Namun, pada sebagian besar kasus, gangguan emosi yang dihubungkan dengan
sembelit hanya merupakan sisa dari penyakit atau pengobatan yang diperoleh. Tips
1. Melunakkan tinja dengan memberi bayi jus prem, prem, atau sedikit gula asli. Berikutnya, anus, harus dilapisi jeli petroleum dua atau tiga kali sehari. 2. Berikan cairan yang terbuat dari campuran brown sugar dengan susu formula atau air. Caranya, satu sendok teh brown sugar dicampur dengan dua ons susu formula atau air. 3. Untuk mengatasi gangguan sembelit pada anak yang sudah mulai belajar berjalan, orang tua perlu memberi asupan berupa makanan kaya serat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan seperti pepaya dan melon. 4. Buah plum, bagus juga diberikan untuk si kecil yang tengah sembelit. 5. Jus Buah pir juga bisa Anda manfaatkan sebagai asupan anak yang terkena sembelit. 6. Untuk sementara, sebaiknya Anda tak memberinya pisang, sebab buah ini bisa mengeraskan feses sehingga tentu saja sembelit anak Anda akan makin parah. |
|
|
Tabloid Wanita Indonesia Jl. Tebet Barat Raya No. 52 Jakarta Selatan 12810 Telp. 021-8308737 (hunting) Fax. 021-8293148 email: wi2001@cbn.net.id |